PKSPL IPB University Berkolaborasi dengan UNOPS Perkuat Kapasitas Pengelola Kawasan Konservasi Perairan melalui Pelatihan di Kabupaten Bintan
PKSPL IPB University Berkolaborasi dengan UNOPS Perkuat Kapasitas Pengelola Kawasan Konservasi Perairan melalui Pelatihan di Kabupaten Bintan
Bintan, 3 Juli 2026 – Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL), LRI-iMAR IPB University melaksanakan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pengelola Kawasan Konservasi Perairan di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Kegiatan yang berlangsung pada 29 Juni–3 Juli 2026 di Agro Resort Bintan ini merupakan bagian dari program Implementing the Strategic Action Programme for the South China Sea and Gulf of Thailand in Indonesia yang diinisiasi oleh United Nations Office for Project Services (UNOPS) bersama Kementerian Lingkungan Hidup. Dalam program tersebut, PKSPL LRI-iMAR IPB University dipercaya sebagai tim pelaksana untuk mendukung penguatan kapasitas pengelolaan kawasan konservasi perairan di Indonesia.
Pelatihan ini menjadi salah satu upaya strategis dalam meningkatkan kompetensi para pengelola kawasan konservasi perairan, khususnya Satuan Unit Organisasi Pengelola (SUOP), agar memiliki kemampuan yang lebih komprehensif dalam memahami kebijakan, perencanaan, pemanfaatan, pemantauan, hingga evaluasi pengelolaan kawasan konservasi. Penguatan kapasitas tersebut diharapkan mampu mendorong terwujudnya tata kelola kawasan konservasi yang lebih efektif, adaptif, dan berbasis ilmu pengetahuan.

Mewakili PKSPL LRI-iMAR IPB University, Dr. Akhmad Solihin membuka rangkaian kegiatan dengan menyampaikan gambaran umum pelaksanaan pelatihan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi tidak hanya diukur dari luas kawasan yang ditetapkan, tetapi juga dari efektivitas pengelolaannya.
“Kawasan Konservasi Perairan tidak hanya sekadar penetapan dalam rangka pemenuhan luasan sebagai visi MPA and OECM Vision 2045, akan tetapi mewujudkan pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan yang implementatif dan efektif. Oleh karena itu, pelatihan ini diharapkan dapat memenuhi standar pengelola kawasan konservasi perairan, sehingga para pengelola memiliki kapasitas yang memadai dalam mengelola kawasan konservasi,” ujar Dr. Akhmad Solihin.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Heru Waluyo Koesworo selaku Direktur Programme for the South China Sea and Gulf of Thailand (SCS) – United Nations Office for Project Services (UNOPS). Dalam paparannya, ia menjelaskan perjalanan pelaksanaan program hingga akhirnya diimplementasikan di Indonesia sebagai bagian dari kerja sama regional yang melibatkan Kamboja, Tiongkok, Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam dalam mendukung pengelolaan sumber daya laut lintas batas secara berkelanjutan.
Pelatihan kemudian secara resmi dibuka oleh Aditya Yuniarti dari Kementerian Lingkungan Hidup Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan. Dalam arahannya, ia menekankan bahwa pengelolaan kawasan konservasi perlu mampu menyeimbangkan aspek perlindungan ekologi dengan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Menurutnya, konservasi tidak hanya bertujuan menjaga kelestarian ekosistem pesisir dan laut, tetapi juga harus memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya yang bijaksana dan berkelanjutan.

Selama lima hari pelaksanaan, peserta memperoleh berbagai materi yang disampaikan oleh para ahli dari PKSPL IPB University. Dr. Akhmad Solihin memberikan materi mengenai kebijakan konservasi kawasan dan pengaturan pemanfaatan kawasan konservasi. Selanjutnya, Dr. Fery Kurniawan, S.Kel., M.Si. membahas konsep dasar kawasan konservasi, keterkaitannya dengan bentang alam dan bentang laut yang lebih luas, sistem zonasi, pemanfaatan kawasan, penyusunan rencana pengelolaan, hingga penyusunan program kawasan konservasi.
Penguatan aspek ekologis juga menjadi fokus utama pelatihan. Dr. Robba Fahrisy Darus, S.Kel., M.Si., Novit Rikardi, S.Pi., M.Si., dan Aditya Bramandito, S.IK., M.Si. menyampaikan materi mengenai perencanaan pemantauan ekosistem, standar pemantauan terumbu karang, lamun, dan mangrove, pelaksanaan survei lapangan, penilaian kondisi ekosistem, hingga penyusunan basis data sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pengelolaan kawasan konservasi. Materi tersebut memberikan pemahaman mengenai pentingnya data ekologis yang akurat sebagai landasan dalam merancang strategi pengelolaan kawasan yang efektif.
Selain aspek ekologis, dimensi sosial ekonomi juga menjadi bagian penting dalam pelatihan. M. Qustam Sahibuddin, S.E., M.Si. menyampaikan materi mengenai pemantauan sosial ekonomi kawasan konservasi, penilaian tingkat kepatuhan masyarakat, pengukuran tingkat pengetahuan masyarakat terhadap konservasi, kondisi sosial ekonomi, serta pentingnya partisipasi masyarakat dalam mendukung keberhasilan pengelolaan kawasan. Pendekatan ini menegaskan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekosistem, tetapi juga oleh keterlibatan aktif masyarakat sebagai bagian dari pengelolaan kawasan.

Sebagai implementasi pembelajaran, peserta mengikuti field visit ke Pulau Nikoi. Kegiatan lapangan ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengamati secara langsung praktik pengelolaan kawasan konservasi yang mengedepankan prinsip keberlanjutan. Di lokasi tersebut, peserta mempelajari berbagai penerapan pengelolaan lingkungan, mulai dari sistem pengelolaan limbah, pemanfaatan air hujan, pengurangan penggunaan sampah plastik, hingga upaya konservasi penyu yang telah diterapkan sebagai bagian dari pengelolaan kawasan wisata berbasis konservasi. Pengalaman lapangan ini memperkuat pemahaman peserta terhadap implementasi pengelolaan kawasan konservasi secara terpadu antara aspek ekologi, sosial, dan ekonomi.
Melalui pelatihan ini, PKSPL LRI-iMAR IPB University terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang pengelolaan kawasan konservasi perairan. Penguatan kapasitas tersebut diharapkan mampu mendukung implementasi Strategic Action Programme for the South China Sea and Gulf of Thailand in Indonesia, khususnya dalam memperkuat pengelolaan kawasan konservasi pada wilayah yang memiliki keterhubungan dengan ekosistem laut lintas batas. Dengan kapasitas pengelola yang semakin baik, pengelolaan kawasan konservasi diharapkan mampu berlangsung secara lebih efektif, adaptif, dan berkelanjutan guna menjaga keberlanjutan sumber daya pesisir dan laut Indonesia.

Pelaksanaan pelatihan ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 14 (Life Below Water) melalui penguatan kapasitas pengelola kawasan konservasi untuk menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir dan laut. Selain itu, kegiatan ini mendukung SDG 13 (Climate Action) melalui peningkatan kemampuan pengelola dalam menjaga ketahanan ekosistem terhadap perubahan iklim, SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara PKSPL IPB University, UNOPS, Kementerian Lingkungan Hidup, serta berbagai pemangku kepentingan nasional dan regional, SDG 5 (Gender Equality) melalui penerapan prinsip Gender Equality and Social Inclusion (GESI) dalam penguatan kapasitas peserta, serta SDG 4 (Quality Education) melalui penyelenggaraan pelatihan berbasis ilmu pengetahuan dan praktik lapangan yang memperkuat kompetensi sumber daya manusia dalam pengelolaan kawasan konservasi perairan secara berkelanjutan.
Kontak Media:
📧 humas@pksplipb.or.id
🌐 www.pkspl.ipb.ac.id
📱 Instagram & TikTok: @pkspl_ipb_university
📘 Facebook: PKSPL IPB
📺 YouTube: PKSPL IPB University
