PKSPL IPB Tinjau Kondisi Nelayan dan Rumpon Pasca Kegiatan Seismik

IMG_5257

PKSPL IPB Tinjau Kondisi Nelayan dan Rumpon Pasca Kegiatan Seismik

Kalimantan Timur, 2 Oktober 2026 — Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University melaksanakan survei lapangan dalam rangka Rapid Assessment LRP Tahap II untuk memperoleh gambaran terkini mengenai kondisi nelayan dan pemilik rumpon yang terdampak kegiatan seismik di wilayah Kalimantan Timur. Kegiatan yang berlangsung pada 26 September–2 Oktober 2026 ini mencakup wawancara dengan nelayan, koordinasi dengan pemangku kepentingan, serta pengumpulan data lapangan di sejumlah wilayah.

Survei dilakukan sebagai bagian dari upaya memperoleh informasi langsung dari masyarakat pesisir mengenai kondisi aktivitas penangkapan ikan, strategi adaptasi nelayan, pemanfaatan dana kompensasi, serta perkembangan pemasangan kembali rumpon setelah kegiatan seismik berlangsung.

Pada tahap awal, tim melakukan silaturahmi dan koordinasi dengan Ketua Rumpon, sejumlah pemilik rumpon, Syahbandar, serta pihak terkait lainnya. Pertemuan tersebut dilakukan untuk menyampaikan tujuan kegiatan sekaligus mengidentifikasi kondisi dan isu yang berkembang di lapangan sebagai dasar untuk pendalaman melalui wawancara.

Menggali Kondisi Nelayan Secara Langsung

Salah satu fokus utama survei adalah menggali pengalaman nelayan yang rumponnya terdampak pemutusan. Berdasarkan hasil wawancara, aktivitas penangkapan ikan secara umum masih dapat berlangsung dengan hasil tangkapan yang relatif baik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa nelayan masih memiliki kemampuan untuk menyesuaikan pola penangkapan dengan memanfaatkan rumpon yang tersedia di zona lain.

Sejumlah nelayan juga melakukan strategi adaptasi dengan memperluas lokasi penangkapan dan pemanfaatan rumpon yang berada di luar zona kegiatan seismik. Strategi tersebut memungkinkan kegiatan melaut tetap berjalan meskipun sebagian rumpon yang sebelumnya digunakan telah terdampak.

Temuan tersebut menjadi salah satu informasi penting dalam memahami kondisi sosial-ekonomi masyarakat nelayan. Survei tidak hanya melihat perubahan pada sarana penangkapan, tetapi juga bagaimana nelayan merespons perubahan tersebut dan mempertahankan aktivitas penghidupan mereka.

Rumpon Baru Menjadi Bagian dari Strategi Adaptasi

Hasil survei juga menunjukkan bahwa sebagian besar dana kompensasi yang diterima pemilik rumpon dimanfaatkan untuk membangun rumpon baru. Langkah tersebut menjadi strategi untuk menggantikan sarana penangkapan yang terdampak sekaligus mempertahankan aktivitas melaut dan sumber pendapatan nelayan.

Di sejumlah lokasi, produktivitas rumpon baru yang dipasang pada zona yang disarankan pemerintah dilaporkan cukup optimal, meskipun hasilnya turut dipengaruhi oleh kondisi musim penangkapan. Sementara itu, beberapa zona rumpon yang sebelumnya terdampak pemutusan dinilai masih berpotensi untuk kembali dimanfaatkan setelah adanya sosialisasi dan pengumuman resmi dari pemerintah.

Kondisi tersebut memperlihatkan adanya kemampuan masyarakat untuk beradaptasi terhadap perubahan kondisi ruang penangkapan. Bagi PKSPL IPB, informasi mengenai strategi adaptasi ini menjadi bagian penting dalam memahami dinamika kehidupan nelayan sekaligus mendukung penyusunan kajian yang berbasis pada kondisi nyata di lapangan.

Koordinasi Mendukung Pengelolaan Rumpon

Selain melakukan wawancara, tim juga melakukan koordinasi dan pengambilan data sekunder dengan UPTD Kelautan dan Perikanan Bontang. Koordinasi dengan pemangku kepentingan menjadi bagian penting untuk melengkapi informasi hasil wawancara masyarakat dengan data dan kebijakan yang berlaku di wilayah kajian.

Dalam perkembangan selanjutnya, berdasarkan diskusi dengan UPTD Kelautan dan Perikanan Bontang, kegiatan seismik di wilayah tersebut telah selesai. Nelayan atau pagae kemudian diperbolehkan untuk kembali memasang rumpon pada lokasi yang sebelumnya terdampak, setelah melalui sosialisasi.

Dalam proses pemasangan kembali, nelayan diwajibkan melaporkan titik koordinat lokasi rumpon kepada Dinas Kelautan dan Perikanan. Pelaporan tersebut menjadi bagian dari pendataan dan pemantauan keberadaan rumpon sekaligus mendukung pengelolaan kegiatan penangkapan ikan di wilayah tersebut.

Memahami Strategi Nafkah Nelayan

Survei juga menemukan beragam strategi yang dilakukan nelayan untuk menjaga keberlanjutan sumber penghidupan selama rumpon belum dapat dipasang kembali. Di Samarinda, misalnya, nelayan yang terdampak telah menerima ganti rugi dan berencana menggunakan dana tersebut untuk membangun rumpon baru, sembari menunggu sosialisasi serta arahan lebih lanjut mengenai pemasangan kembali rumpon. Selama kegiatan seismik berlangsung, aktivitas penangkapan tetap dilakukan dengan memanfaatkan rumpon milik pagae Bontang yang berada di luar zona terdampak.

Sementara itu, identifikasi di Balikpapan menunjukkan adanya tiga kelompok nelayan yang rumponnya terdampak kegiatan seismik. Untuk mempertahankan aktivitas penghidupan, sebagian nelayan tetap melaut dengan mengikuti kapal nelayan lain, sementara sebagian lainnya terlibat sebagai saksi dalam kegiatan pemutusan rumpon.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat nelayan memiliki berbagai cara untuk beradaptasi terhadap perubahan kondisi di wilayah penangkapan. Informasi mengenai strategi nafkah tersebut menjadi bagian penting dari proses kajian karena kondisi sosial-ekonomi masyarakat perlu dipahami secara menyeluruh dalam setiap proses pengelolaan wilayah pesisir dan laut.

PKSPL IPB Dorong Kajian Berbasis Kondisi Lapangan

Melalui Rapid Assessment LRP Tahap II, PKSPL IPB berupaya memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi masyarakat dan aktivitas perikanan di wilayah terdampak kegiatan seismik. Pendekatan lapangan dilakukan dengan mengkombinasikan wawancara langsung, koordinasi dengan pemangku kepentingan, serta pengumpulan informasi terkait kondisi rumpon dan aktivitas penangkapan.

Bagi PKSPL IPB, keterlibatan langsung di lapangan menjadi bagian penting dalam menghasilkan kajian yang mampu menggambarkan kondisi masyarakat secara objektif. Informasi yang diperoleh dari nelayan tidak hanya menjadi data pendukung, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai kemampuan adaptasi, kebutuhan, dan dinamika penghidupan masyarakat pesisir.

Hasil identifikasi lapangan menunjukkan bahwa meskipun terdapat nelayan yang mengalami penghentian sementara aktivitas penangkapan akibat terdampaknya rumpon, masyarakat terus melakukan berbagai strategi adaptasi untuk mempertahankan aktivitas ekonomi. Di sisi lain, perkembangan kebijakan mengenai pemasangan kembali rumpon memberikan ruang bagi nelayan untuk secara bertahap memulihkan sarana penangkapan mereka.

Kegiatan survei lapangan PKSPL IPB berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 14: Ekosistem Lautan melalui upaya memahami dinamika pemanfaatan ruang laut dan aktivitas perikanan masyarakat secara lebih terukur. Kegiatan ini juga mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui perhatian terhadap keberlanjutan mata pencaharian nelayan dan strategi adaptasi ekonomi masyarakat pesisir. Selain itu, pengumpulan informasi sosial dan ekonomi masyarakat turut mendukung SDG 1: Tanpa Kemiskinan, terutama dalam memahami kemampuan rumah tangga nelayan mempertahankan sumber pendapatan di tengah perubahan kondisi wilayah penangkapan. Koordinasi antara akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat juga memperkuat SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui penguatan kolaborasi dan pertukaran informasi dalam mendukung pengelolaan wilayah pesisir dan laut.

Melalui survei lapangan yang dilakukan secara langsung bersama masyarakat, PKSPL IPB terus memperkuat perannya dalam menghadirkan kajian berbasis bukti dan kondisi nyata di lapangan. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari komitmen PKSPL IPB untuk mendukung pengelolaan sumber daya pesisir dan laut yang adaptif, berkelanjutan, serta tetap memperhatikan keberlanjutan penghidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut.