Labschool Kebayoran Jakarta Kunjungi PKSPL IPB, Pelajari Inovasi Spirulina hingga Budidaya Laut Berkelanjutan

WhatsApp Image 2026-10-26 at 19.55.59

Labschool Kebayoran Jakarta Kunjungi PKSPL IPB, Pelajari Inovasi Spirulina hingga Budidaya Laut Berkelanjutan

Bogor, 26 Oktober 2026 — Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Kelautan (PKSPL) LRI-iMAR IPB University menerima kunjungan siswa dan perwakilan Labschool Kebayoran Jakarta untuk mengenal lebih dekat pemanfaatan sumber daya laut melalui ilmu pengetahuan dan inovasi (26/10). Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi para siswa untuk mempelajari proses pengembangan spirulina, mulai dari pengenalan bahan baku, budidaya dan pengolahan, hingga menjadi produk pangan yang siap dikemas.

Dalam kunjungan tersebut, tim PKSPL memperkenalkan berbagai kegiatan penelitian dan inovasi yang dikembangkan, khususnya di bidang bioteknologi kelautan, pangan berbasis sumber daya laut, dan budidaya perairan. Melalui paparan dan diskusi interaktif, siswa diajak memahami bagaimana potensi organisme laut berukuran mikroskopis dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Andy Afandy, perwakilan PKSPL IPB University, menjelaskan pengenalan spirulina beserta salah satu produk olahannya, yaitu snack bar spirulina dalam kemasan 20 gram. Ia juga menjelaskan pentingnya proses pengolahan dan penggilingan spirulina, termasuk tantangan pengembangan teknologi pengolahan bahan tersebut di Indonesia. Selain potensinya sebagai bahan pangan, spirulina juga dapat menjadi salah satu objek kajian untuk memahami hubungan antara organisme dan kondisi lingkungan perairan.

Menurut Andy, inovasi dapat berawal dari rasa ingin tahu terhadap hal-hal sederhana. Ia mendorong para siswa untuk tidak hanya mengikuti perkembangan yang sudah ada, tetapi juga berani mengembangkan gagasan baru berdasarkan pengetahuan dan proses belajar. Semangat tersebut sejalan dengan peran lembaga riset dalam mengubah hasil penelitian menjadi inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Andy turut memperkenalkan lingkup kerja PKSPL yang tidak terbatas pada pengembangan produk pangan kelautan. PKSPL juga mengembangkan inovasi dalam bentuk metodologi, sistem informasi, dan teknologi yang mendukung pengelolaan sumber daya pesisir dan laut. Para siswa juga memperoleh gambaran mengenai jejaring kerja sama PKSPL dengan berbagai mitra, termasuk mitra internasional, serta ragam program studi di IPB University yang dapat menjadi pilihan untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

Mengenal potensi mikroalga melalui bioteknologi kelautan

Materi mengenai mikroalga disampaikan lebih lanjut oleh Kusti. Dalam sesi bertajuk Tiny Cell, Big Potential, siswa diperkenalkan pada mikroalga, kelompok organisme berukuran sangat kecil yang memiliki beragam bentuk dan pigmen. Salah satu contohnya adalah spirulina yang memiliki bentuk menyerupai spiral dan perlu diamati menggunakan mikroskop.

Kusti menjelaskan bahwa mikroalga memiliki potensi untuk dikembangkan dalam berbagai bidang, mulai dari pangan fungsional hingga kosmetik. Pangan fungsional tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat kesehatan tertentu. Sejumlah mikroalga juga menjadi objek penelitian karena kandungan senyawa dan pigmennya yang dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan.

Pengembangan mikroalga untuk pangan memerlukan proses budidaya dan pengolahan yang sesuai standar. Spirulina tidak langsung dipanen dari laut untuk dijadikan produk, melainkan perlu melalui proses kultur atau pembudidayaan terlebih dahulu. Kondisi media kultur, kualitas air, serta proses pemeliharaan turut mempengaruhi pertumbuhan dan biomassa yang dihasilkan. Untuk produk pangan, proses produksi harus memperhatikan standar keamanan dan mutu yang berlaku.

Melalui penjelasan tersebut, para siswa diajak memahami bahwa menghasilkan produk berbasis sumber daya laut bukan sekadar mengolah bahan mentah menjadi makanan. Prosesnya membutuhkan penelitian, pengujian, pengendalian kualitas, dan pemilihan teknologi yang sesuai agar produk dapat dikembangkan secara bertanggung jawab.

Memahami budidaya laut yang terintegrasi

Selain bioteknologi kelautan, tim PKSPL juga memperkenalkan konsep sea farming atau sistem budidaya laut terintegrasi yang dijelaskan oleh Qustam. Konsep ini dikembangkan PKSPL sejak 2005 di Kepulauan Seribu dengan menghubungkan kegiatan budidaya, pengelolaan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan peningkatan ekonomi dari hulu hingga hilir.

Komoditas yang dikembangkan dalam kegiatan sea farming antara lain ikan kerapu, ikan bandeng, udang vaname, dan lobster. Dalam sesi tersebut, siswa mempelajari bahwa keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh hasil produksi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kualitas lingkungan tempat organisme dibudidayakan.

PKSPL juga mengembangkan teknologi untuk mendukung budidaya lobster pasir dan lobster mutiara, termasuk upaya meningkatkan efisiensi proses budidaya. Pemanfaatan teknologi untuk memantau kondisi perairan, seperti suhu dan pH, turut menjadi bagian dari pengembangan sistem budidaya yang lebih terukur. Meski demikian, penerapan teknologi dan pengelolaan spesies tetap perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan serta prinsip kehati-hatian, termasuk dalam kegiatan penebaran kembali atau restocking.

Dalam kesempatan tersebut, siswa juga diperkenalkan pada inovasi lain yang dikembangkan PKSPL, seperti pemanfaatan biota laut untuk menghasilkan biostimulan serta pengembangan solusi berbasis alam atau Nature-based Solutions (NbS). Beragam contoh tersebut menunjukkan bahwa ilmu kelautan memiliki ruang pengembangan yang luas dan dapat menjawab berbagai kebutuhan, mulai dari pangan hingga pengelolaan lingkungan.

Mendorong rasa ingin tahu dan semangat berinovasi

Sesi kunjungan berlangsung interaktif melalui pertanyaan siswa mengenai potensi spirulina sebagai sumber protein, pengembangan budidaya di berbagai daerah, pemanfaatan mikroalga, hingga proses lahirnya inovasi penelitian. Diskusi tersebut memperlihatkan antusiasme siswa dalam memahami bagaimana ilmu pengetahuan diterapkan untuk menghasilkan produk dan teknologi.

Pertanyaan mengenai pengembangan spirulina di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), misalnya, menjadi pintu masuk untuk membahas pentingnya pemanfaatan sumber daya lokal. Pengembangan inovasi perlu mempertimbangkan potensi yang tersedia di suatu daerah, kemudahan penerapan, kebutuhan masyarakat, serta standar produksi yang sesuai. Dengan pendekatan tersebut, riset dapat diarahkan agar lebih relevan dengan kondisi dan kebutuhan wilayah.

Di akhir kegiatan, Bambang memperkenalkan salah satu produk berbasis spirulina dan menyampaikan apresiasi atas kunjungan Labschool Kebayoran Jakarta. Ia berharap pengetahuan yang dibagikan dapat memberikan manfaat bagi para siswa serta membuka peluang kerja sama dan kegiatan pembelajaran serupa pada masa mendatang.

Bagi PKSPL IPB University, kunjungan edukatif seperti ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan riset kelautan kepada generasi muda. Sekolah merupakan salah satu ruang penting untuk membangun dasar pengetahuan dan rasa ingin tahu, sementara pengalaman berinteraksi langsung dengan peneliti dapat membantu siswa melihat hubungan antara pembelajaran di kelas, penelitian, dan penerapan inovasi dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ini mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran berbasis pengalaman dan pengenalan sains kepada siswa; SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengenalan proses penelitian serta pengembangan teknologi dan produk berbasis sumber daya laut; dan SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui peningkatan pemahaman mengenai potensi sumber daya laut serta pentingnya budidaya yang memperhatikan kualitas lingkungan. Kunjungan ini juga memperkuat semangat kemitraan dalam pendidikan dan riset, sejalan dengan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Melalui kegiatan ini, PKSPL LRI-iMAR IPB University berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik mengenal ilmu kelautan, berani mengajukan pertanyaan, dan mengembangkan gagasan kreatif. Dengan menghubungkan pengetahuan, penelitian, dan inovasi, potensi sumber daya laut diharapkan dapat dimanfaatkan secara bijak untuk mendukung kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.