PKSPL IPB Dorong Penguatan Jejaring Kawasan Konservasi Laut melalui Validasi Ilmiah Konektivitas Togean–Wakatobi
PKSPL IPB Dorong Penguatan Jejaring Kawasan Konservasi Laut melalui Validasi Ilmiah Konektivitas Togean–Wakatobi
Bogor, 15 Juli 2026 – Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL), LRI-iMAR IPB University menyelenggarakan Scientific Discussion: Validasi Studi Konektivitas dan Desain Jaringan Kawasan Laut Taman Nasional Kepulauan Togean dan Wakatobi sebagai bagian dari implementasi proyek ASEAN ENMAPS (Effectively Managing Network of Marine Protected Areas in Large Marine Ecosystems in the ASEAN Region). Forum ilmiah ini mempertemukan para akademisi, peneliti, pengelola kawasan konservasi, pemerintah, serta mitra pembangunan untuk memvalidasi hasil kajian konektivitas ekologis sekaligus merumuskan arah pengembangan jejaring kawasan konservasi laut yang lebih efektif dan berbasis ilmu pengetahuan.

Kegiatan dibuka dengan penegasan bahwa pengelolaan kawasan konservasi laut memerlukan pendekatan yang tidak hanya memperhatikan aspek biofisik, tetapi juga tata kelola, sosial ekonomi, serta keterlibatan masyarakat. Deputi PKSPL IPB menekankan pentingnya diskusi sebagai wadah pengayaan informasi ilmiah sebelum pelaksanaan verifikasi lapangan, sementara tim pelaksana proyek menjelaskan bahwa hasil kajian akan menjadi dasar penyusunan desain jejaring kawasan konservasi yang mendukung peningkatan efektivitas pengelolaan Taman Nasional Kepulauan Togean dan Wakatobi.
Dalam sesi ilmiah, para narasumber memaparkan hasil kajian mengenai pola konektivitas larva, dinamika oseanografi, serta implikasinya terhadap pengelolaan kawasan konservasi. Diskusi mengungkap bahwa kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean memiliki karakteristik self-seeding yang tinggi karena berada pada perairan semi-tertutup, sehingga memiliki ketergantungan besar terhadap kemampuan pemulihan dari dalam kawasan sendiri. Sebaliknya, Taman Nasional Wakatobi berada pada perairan terbuka dengan konektivitas ekologis yang lebih luas dan berpotensi menerima suplai larva dari berbagai wilayah di sekitarnya, meskipun pola tersebut dipengaruhi dinamika musim dan kondisi oseanografi.
Salah satu temuan penting dalam diskusi adalah dugaan peran Banggai Dalaka sebagai stepping stone atau koridor ekologis yang menghubungkan Togean dan Wakatobi. Para peserta menilai bahwa konektivitas ekologis kedua kawasan belum dapat dibuktikan secara langsung sehingga diperlukan validasi lanjutan melalui pendekatan molekuler, pemodelan hidrodinamika dengan resolusi yang lebih tinggi, serta pengumpulan data lapangan secara berkelanjutan.

Forum juga menghasilkan kesepakatan mengenai pentingnya penerapan pendekatan hybrid knowledge, yaitu mengintegrasikan Scientific Ecological Knowledge dengan Local Ecological Knowledge (LEK) sebagai dasar validasi konektivitas kawasan. Pendekatan tersebut dipandang mampu memperkuat bukti ilmiah sekaligus mengakomodasi pengetahuan masyarakat lokal, termasuk komunitas adat Bajo, yang telah lama memahami dinamika ekosistem pesisir dan laut di kawasan tersebut. Selain itu, penggunaan teknologi seperti DNA barcoding, environmental DNA (eDNA), citizen science, dan sistem basis data terpadu menjadi rekomendasi utama dalam mendukung pengelolaan kawasan konservasi yang adaptif dan berbasis data.
Diskusi juga menyoroti pentingnya penguatan tata kelola lintas sektor dan lintas kewenangan. Para peserta menilai bahwa keberhasilan jejaring kawasan konservasi tidak hanya ditentukan oleh konektivitas ekologis, tetapi juga oleh koordinasi antar lembaga, penguatan kapasitas pengelola kawasan, keberlanjutan pendanaan, serta kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat lokal. Dalam konteks tersebut, usulan pembentukan Marine Protected Area (MPA) Manager Network dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat pertukaran informasi, pengalaman pengelolaan, dan penyelesaian tantangan bersama di berbagai kawasan konservasi laut.
Sebagai tindak lanjut, PKSPL IPB bersama para mitra akan melaksanakan verifikasi lapangan di Taman Nasional Kepulauan Togean dan Wakatobi, melakukan identifikasi spesies target, memperkuat kajian konektivitas ekologis, serta mendukung penyusunan rekomendasi ilmiah untuk revisi zonasi dan pengembangan desain jejaring kawasan konservasi laut. Hasil kajian ini juga akan diintegrasikan ke dalam pengembangan sistem pemantauan laut dan penyusunan kebijakan pengelolaan kawasan konservasi yang lebih adaptif di tingkat nasional maupun regional ASEAN.

Melalui penyelenggaraan forum ilmiah ini, PKSPL IPB University kembali menegaskan komitmennya sebagai lembaga riset yang menghasilkan rekomendasi berbasis sains untuk mendukung pengelolaan sumber daya pesisir dan laut secara berkelanjutan. Kolaborasi multipihak yang terbangun diharapkan mampu memperkuat efektivitas kawasan konservasi laut Indonesia sekaligus mendukung pengembangan jejaring kawasan konservasi yang terintegrasi, adaptif, dan berdaya tahan terhadap tantangan perubahan lingkungan di masa depan.
Kegiatan ini memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 14 (Life Below Water) melalui penguatan pengelolaan kawasan konservasi laut berbasis ilmu pengetahuan, peningkatan efektivitas jejaring kawasan konservasi, serta perlindungan keanekaragaman hayati laut. Selain itu, forum ini mendukung SDG 13 (Climate Action) melalui penyediaan dasar ilmiah untuk meningkatkan ketahanan ekosistem pesisir terhadap perubahan iklim dan gangguan lingkungan. Penguatan kolaborasi lintas kementerian, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat lokal juga mencerminkan implementasi SDG 17 (Partnerships for the Goals), sementara integrasi pengetahuan lokal dalam proses pengambilan keputusan menjadi bagian penting dalam mewujudkan tata kelola sumber daya alam yang inklusif dan berkelanjutan.
Kontak Media:
📧 humas@pksplipb.or.id
🌐 www.pkspl.ipb.ac.id
📱 Instagram & TikTok: @pkspl_ipb_university
📘 Facebook: PKSPL IPB
📺 YouTube: PKSPL IPB University
