Nature-based Solutions Perkuat Ketangguhan Masyarakat Manggarai Menghadapi Perubahan Iklim dan Risiko Bencana
Nature-based Solutions Perkuat Ketangguhan Masyarakat Manggarai Menghadapi Perubahan Iklim dan Risiko Bencana
Manggarai, Nusa Tenggara Timur, 30 Juni 2026 – Komitmen memperkuat ketangguhan masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim dan risiko bencana terus diwujudkan melalui implementasi program Nature-based Solutions (NbS) for Empowering Local Entities and Communities to Take Rapid Action (ELECTRA) di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Program yang berlangsung pada 21–30 Juni 2026 ini merupakan kolaborasi antara Palang Merah Indonesia (PMI), American Red Cross (AmCross), International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC), dan PKSPL IPB University dalam mendorong penerapan solusi berbasis alam sebagai strategi pembangunan yang tangguh dan berkelanjutan.
Sebagai mitra ilmiah dalam program ini, PKSPL IPB University berperan dalam penyusunan kajian Nature-based Solutions, pendampingan teknis, penguatan kapasitas masyarakat, serta penyusunan rekomendasi rehabilitasi ekosistem yang disesuaikan dengan karakteristik biofisik, sosial, dan ekonomi masing-masing desa dampingan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan solusi yang tidak hanya efektif dalam mengurangi risiko bencana, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Selama sepuluh hari pelaksanaan, program menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan pemerintah desa dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan. Kegiatan tersebut meliputi penyampaian hasil kajian Nature-based Solutions di tujuh desa sasaran, pelatihan teknis rehabilitasi ekosistem, penyusunan rencana penanaman, pembangunan rumah bibit, penyusunan Peraturan Desa (Perdes), hingga bimbingan teknis penyusunan proposal rehabilitasi ekosistem dan pengembangan mata pencaharian berbasis potensi lokal.
Kegiatan ini melibatkan pemerintah daerah, pemerintah desa, akademisi, organisasi kemanusiaan, kelompok masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Melalui diskusi interaktif, pelatihan di kelas, praktik lapangan, dan kunjungan ke lokasi program, para peserta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai penerapan Nature-based Solutions sebagai pendekatan yang mampu mengintegrasikan perlindungan lingkungan, pengurangan risiko bencana, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Selain memperkuat kapasitas teknis masyarakat, program juga menekankan pentingnya rehabilitasi ekosistem pesisir, kawasan hulu, dan daerah tangkapan air sebagai bagian dari upaya meningkatkan ketahanan wilayah terhadap dampak perubahan iklim. Pendekatan ini dipadukan dengan penguatan kelembagaan desa, penyusunan regulasi di tingkat desa, serta pengembangan mata pencaharian berkelanjutan melalui pemanfaatan komoditas unggulan lokal. Dengan demikian, rehabilitasi lingkungan tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga mampu menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Andy Affandy, Ketua Tim PKSPL IPB University sekaligus Wakil Kepala Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan, menegaskan bahwa keberhasilan Nature-based Solutions sangat ditentukan oleh kemampuan mengintegrasikan aspek ekologi, sosial, dan ekonomi dalam setiap tahapan implementasi program.
“Nature-based Solutions bukan sekadar kegiatan menanam pohon atau rehabilitasi ekosistem. Pendekatan ini menghubungkan fungsi alam dengan kebutuhan masyarakat sehingga mampu menghasilkan manfaat ekologis sekaligus meningkatkan kesejahteraan. Ketika masyarakat menjadi pelaku utama dalam menjaga ekosistem dan memperoleh manfaat ekonomi dari sumber daya yang dikelola secara berkelanjutan, maka ketangguhan desa terhadap perubahan iklim dan risiko bencana akan tumbuh secara alami,” ujar Andy.
Ia juga menjelaskan bahwa hasil kajian PKSPL IPB menunjukkan setiap desa memiliki karakteristik bentang alam, tingkat kerentanan, dan potensi sumber daya yang berbeda sehingga solusi yang dikembangkan harus disusun secara spesifik sesuai kondisi lokal.
“Melalui kajian yang kami lakukan, setiap desa memperoleh rekomendasi aksi yang berbeda sesuai kondisi biofisik dan sosial ekonomi masyarakatnya. Inilah yang menjadi kekuatan Nature-based Solutions, yaitu menghadirkan solusi yang berbasis ilmu pengetahuan namun tetap menghargai pengetahuan lokal sehingga implementasinya dapat berkelanjutan setelah program pendampingan selesai,” tambahnya.

Selama pelaksanaan kegiatan, peserta secara aktif mengikuti seluruh rangkaian agenda, mulai dari penyampaian materi, diskusi kelompok, simulasi penyusunan rencana aksi desa, praktik pembangunan rumah bibit, hingga observasi lapangan. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya komitmen masyarakat dalam mendukung upaya konservasi lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan desa terhadap berbagai ancaman bencana dan perubahan iklim.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi evaluasi, penyusunan rencana tindak lanjut, serta komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan untuk melanjutkan implementasi Nature-based Solutions di Kabupaten Manggarai. Melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, dan organisasi kemanusiaan, program ini diharapkan menjadi model pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat yang mampu menghasilkan manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan serta dapat direplikasi di berbagai daerah lain di Indonesia.
Tentang Program

Nature-based Solutions (NbS) for Empowering Local Entities and Communities to Take Rapid Action (ELECTRA) merupakan program kolaborasi antara Palang Merah Indonesia (PMI), American Red Cross (AmCross), International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC), dan PKSPL IPB University yang bertujuan memperkuat ketangguhan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim melalui pendekatan solusi berbasis alam (Nature-based Solutions).
Program ini mengintegrasikan rehabilitasi ekosistem, pengurangan risiko bencana, pemberdayaan masyarakat, penguatan tata kelola desa, serta pengembangan mata pencaharian berkelanjutan sebagai satu kesatuan strategi pembangunan yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Di Kabupaten Manggarai, implementasi program dilaksanakan pada tujuh desa sasaran melalui tahapan kajian, pendampingan teknis, pelatihan, penyusunan rencana rehabilitasi ekosistem, pengembangan rumah bibit, penyusunan Peraturan Desa (Perdes), penguatan kelembagaan masyarakat dan BUMDes, hingga penyusunan proposal pengembangan mata pencaharian berbasis potensi lokal. Seluruh tahapan tersebut dirancang agar masyarakat menjadi pelaku utama dalam pengelolaan sumber daya alam serta mampu menjaga keberlanjutan program setelah masa pendampingan berakhir.
Melalui pendekatan Nature-based Solutions, program ELECTRA tidak hanya berfokus pada pemulihan ekosistem pesisir, daerah aliran sungai, dan kawasan hulu, tetapi juga mendorong terciptanya manfaat sosial dan ekonomi melalui peningkatan kapasitas masyarakat, pengembangan usaha berbasis sumber daya lokal, serta penguatan kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, akademisi, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat.
Ke depan, hasil implementasi program diharapkan dapat menjadi model pembelajaran dan praktik baik (best practice) dalam pengembangan solusi berbasis alam untuk mendukung pembangunan daerah yang tangguh terhadap perubahan iklim, pengurangan risiko bencana, serta pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Kegiatan implementasi Nature-based Solutions (NbS) for ELECTRA ini memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui penguatan kapasitas masyarakat dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim dan penerapan solusi berbasis ekosistem untuk mengurangi risiko bencana. Program ini juga mendukung SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui rehabilitasi kawasan hulu, perlindungan daerah tangkapan air, konservasi keanekaragaman hayati, serta pemulihan fungsi ekosistem yang berkelanjutan. Pengembangan mata pencaharian berbasis potensi lokal dan pemberdayaan kelembagaan desa berkontribusi pada SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dan SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) dengan menciptakan peluang ekonomi yang ramah lingkungan bagi masyarakat. Selain itu, penyusunan Peraturan Desa, penguatan tata kelola lokal, dan peningkatan kapasitas pemerintah desa mendukung SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), sementara kolaborasi erat antara PKSPL IPB University, PMI, American Red Cross, IFRC, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat menjadi implementasi nyata SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dalam membangun ketangguhan masyarakat dan keberlanjutan pengelolaan sumber daya alam.
Kontak Media:
📧 humas@pksplipb.or.id
🌐 www.pkspl.ipb.ac.id
📱 Instagram & TikTok: @pkspl_ipb_university
📘 Facebook: PKSPL IPB
📺 YouTube: PKSPL IPB University
