Peneliti PKSPL IPB Berbagi Pengalaman Implementasi Nature-based Solutions untuk Pengurangan Risiko Bencana Pesisir di Jawa Tengah

WhatsApp Image 2026-05-12 at 09.03.27

Peneliti PKSPL IPB Berbagi Pengalaman Implementasi Nature-based Solutions untuk Pengurangan Risiko Bencana Pesisir di Jawa Tengah

Semarang, 6 Mei 2026 β€” Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University berperan serta sebagai narasumber dalam kegiatan Lokakarya Pelaksanaan Kajian Nature-based Solutions (NbS) untuk Pengelolaan Pesisir yang Berkelanjutan di Wilayah Kabupaten Batang dan Kabupaten Demak Provinsi Jawa Tengah yang diselenggarakan pada 4–6 Mei 2026 di Semarang. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Bappeda Jawa Tengah bersama Yayasan HUMANIS dan International Union for Conservation of Nature (IUCN) Asia Regional Office sebagai bagian dari upaya memperkuat pendekatan berbasis alam dalam pengelolaan kawasan pesisir yang adaptif dan berkelanjutan.
Dalam kegiatan tersebut, PKSPL IPB diwakili oleh Yoppie Christian, S.Sos., M.Si., yang berbagi pengalaman mengenai implementasi Nature-based Solutions (NbS) dalam program penguatan resiliensi masyarakat pesisir dan daerah aliran sungai (DAS) yang telah dilaksanakan bersama berbagai mitra internasional, antara lain American Red Cross (AmCross), Australian Red Cross (ARC), International Federation of the Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC), dan Palang Merah Indonesia (PMI). Program tersebut telah berjalan sejak tahun 2012 hingga 2026 di berbagai wilayah Indonesia, meliputi Aceh Jaya, Lombok Barat, Cilacap, Batang, Demak, Bandung, Karawang, Seluma, Kaur, Belu, Alor, Tanggamus, Buru Selatan, dan Manggarai.

Lokakarya berlangsung selama tiga hari dengan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dari pemerintah daerah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, hingga komunitas perempuan pesisir dari Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Demak dan Kabupaten Batang yang akan menjadi lokasi kajian NbS oleh IUCN bersama Yayasan HUMANIS. Pada hari pertama, perwakilan IUCN Asia Regional Office, Satrio Adi Wicaksono dan Hanif Falah, memaparkan konsep Nature-based Solutions yang dikembangkan IUCN sejak tahun 2016, termasuk penerapannya dalam perlindungan kawasan pesisir serta pendekatan integratif antara intervensi grey infrastructure, hybrid, dan NbS dalam penguatan ketahanan wilayah pesisir. Selain itu, Gita Meidita dari Yayasan HUMANIS turut menjelaskan pentingnya integrasi aspek GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) dalam perencanaan NbS.

Pada sesi berikutnya, Dr. Ir. Sujarwanto Dwiatmoko, M.Si., selaku Staf Ahli Badan Pelaksana Otorita Pantura Jawa (BPOPJ), memaparkan rencana implementasi Giant Sea Wall dan integrasi pendekatan NbS di dalamnya.

Sementara itu, Yoppie Christian dari PKSPL IPB menyampaikan pengalaman implementasi NbS pada program pembangunan resiliensi bencana berbasis masyarakat di tingkat desa.
β€œSecara substansi, Nature-based Solutions (NbS) merupakan pengayaan dari bentuk-bentuk implementasi mitigasi risiko yang selama ini menempatkan kesiapsiagaan, rehabilitasi ekosistem, dan pembangunan grey infrastructure secara parsial. Sejak dideklarasikan pada COP 26 di Glasgow pada tahun 2021, NbS memadukan seluruh pendekatan di atas secara seimbang dan saling melengkapi. Oleh karena itu, pada konteks pengurangan risiko bencana berbasis komunitas, NbS relevan untuk diaplikasikan, dan PKSPL IPB telah melakukan itu bersama mitra-mitranya, khususnya dengan Red Cross,” ujar Yoppie Christian.

Hari kedua lokakarya difokuskan pada pengenalan terhadap Global Standard for Nature-based Solutions yang mencakup delapan kriteria utama serta penggunaan Self-Assessment Tools yang dikembangkan oleh IUCN. Peserta yang berasal dari berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) Kabupaten Demak dan Kabupaten Batang, seperti Bapperida, DLH, DKP, DPUPR, Dispar, Dispermades, Cabang Dinas Kehutanan II dan IV, serta BMKG Maritim, organisasi non-pemerintah dan komunitas pesisir, diajak melakukan evaluasi proyek berbasis standar NbS dan mengidentifikasi peluang penerapannya di kawasan Pantai Utara Jawa.

Dalam sesi teknis tersebut, peserta juga diperkenalkan pada metode Restoration Opportunity Assessment Method (ROAM) untuk merancang fokus geografis, mengidentifikasi pemangku kepentingan, serta menyusun rencana restorasi berdasarkan isu degradasi lingkungan yang dihadapi, seperti degradasi mangrove, kerusakan lahan pertanian, deplesi perikanan, hingga banjir rob permanen yang berdampak pada penghidupan masyarakat pesisir.

Sementara itu, pada hari ketiga, Dr.-Ing. Santy Paulla Dewi, S.T., M.T., dari Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro memaparkan pendekatan analisis ekonomi dan finansial dalam pemilihan opsi NbS menggunakan Cost-Benefit Analysis. Kegiatan kemudian ditutup dengan diskusi mengenai peluang pembiayaan dan investasi dalam implementasi NbS untuk mendukung pengelolaan pesisir yang berkelanjutan.
Melalui keterlibatan aktif dalam lokakarya ini, PKSPL IPB kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong pendekatan pengelolaan wilayah pesisir berbasis ilmu pengetahuan, kolaborasi multi pihak, dan penguatan kapasitas masyarakat. Pengalaman implementasi NbS yang telah dilakukan di berbagai wilayah Indonesia diharapkan dapat menjadi referensi penting dalam pengembangan strategi adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana di kawasan pesisir Jawa Tengah.

Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 13 (Climate Action) melalui penguatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim berbasis ekosistem, SDG 14 (Life Below Water) melalui perlindungan ekosistem pesisir dan laut, SDG 15 (Life on Land) melalui rehabilitasi ekosistem dan lingkungan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, organisasi internasional, dan masyarakat dalam pembangunan pesisir yang tangguh dan berkelanjutan.

Kontak Media:
πŸ“§ humas@pksplipb.or.id
🌐 www.pkspl.ipb.ac.id
πŸ“± Instagram & TikTok: @pkspl_ipb_university
πŸ“˜ Facebook: PKSPL IPB
πŸ“Ί YouTube: PKSPL IPB University