PKSPL IPB Diseminasi Kajian Desain Rehabilitasi Ekosistem Pesisir Jawa Tengah di Semarang
PKSPL IPB Diseminasi Kajian Desain Rehabilitasi Ekosistem Pesisir Jawa Tengah di Semarang
Semarang — Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB turut berperan sebagai narasumber dalam kegiatan Diseminasi Kajian Desain Rehabilitasi Ekosistem Pesisir Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Konsorsium FOCUS bersama Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 12–13 Mei 2026 di Kota Semarang. Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk menyebarluaskan hasil kajian desain rehabilitasi ekosistem pesisir di sembilan desa program FOCUS yang tersebar di lima kabupaten di Jawa Tengah kepada entitas swasta, pemerintah, akademisi, dan komunitas pesisir.
Perwakilan PKSPL IPB dalam kegiatan ini terdiri atas Andy Affandy, S.Pi., M.M., Alin Rahmah Yuliani, S.Hut., Harkyo Hutri Baskoro, S.P., Andan Hamdani, S.Pi., M.Si. sebagai narasumber, serta Yoppie Christian, S.Sos., M.Si. sebagai moderator. Kehadiran tim PKSPL IPB menjadi bagian penting dalam penyampaian hasil kajian yang menekankan pentingnya pendekatan rehabilitasi ekosistem pesisir secara komprehensif dan berbasis kondisi lokal.
Sebelum kegiatan diseminasi dilaksanakan, pada 12 Mei 2026 Konsorsium FOCUS bersama tim kajian PKSPL IPB terlebih dahulu melakukan audiensi dengan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah, Heru Djatmika. Dalam pertemuan tersebut, tim memaparkan secara ringkas isi dan hasil kajian rehabilitasi ekosistem pesisir yang telah dilakukan.
Heru Djatmika menilai bahwa hasil kajian yang disusun PKSPL IPB memiliki pendekatan yang berbeda dan lebih komprehensif dibandingkan berbagai pendekatan rehabilitasi yang selama ini dilakukan. Menurutnya, seluruh tantangan rehabilitasi pesisir telah dipetakan sejak awal sehingga desain rehabilitasi yang dihasilkan mampu menjadi dasar bagi para pihak untuk bersinergi dalam menentukan bentuk aksi yang tepat dan berkelanjutan.
Kegiatan diseminasi utama berlangsung pada 13 Mei 2026 di Ruang Saphir Hotel Ibis Styles Pleburan, Kota Semarang, dan dihadiri sekitar 90 peserta dari berbagai unsur. Peserta berasal dari sektor swasta seperti PT Sidomuncul, Nusa Board Indonesia, dan PT Lautan Luas; organisasi pegiat lingkungan seperti SeaSoldier, KNTI, Palang Merah Indonesia, dan Yayasan Lahan Basah; kalangan akademisi dari Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Semarang, serta Universitas Sultan Agung; hingga unsur pemerintah dan komunitas pesisir dari Kota Semarang, Kabupaten Demak, Kabupaten Batang, Kabupaten Jepara, dan Kabupaten Kendal.

Dalam paparannya, Andy Affandy selaku ketua tim kajian menjelaskan kerangka kerja rehabilitasi ekosistem yang mencakup 13 prinsip utama agar rehabilitasi pesisir dapat berjalan efektif dan berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa rehabilitasi ekosistem tidak cukup dilakukan hanya melalui kegiatan penanaman mangrove tanpa kajian mendalam terhadap kondisi biofisik, sosial, teknis, dan ekonomi wilayah pesisir.
“Program dan kegiatan menanam mangrove sudah tak terhitung banyaknya di pesisir Jawa Tengah, namun tak semuanya efektif berdasarkan perencanaan yang matang sebagai upaya rehabilitasi ekosistem. Dengan kondisi pesisir utara Jawa Tengah yang ekstrem dan khas, tidak bisa semata melakukan penanaman tanpa terlebih dahulu mengkaji secara mendalam pada aspek biofisik, teknis, sosial hingga ekonomi untuk menjawab semua tantangan yang ada. Kajian yang dilaksanakan oleh PKSPL IPB dengan dukungan Konsorsium FOCUS adalah upaya komprehensif untuk menjawab tantangan yang ada dan untuk memastikan bahwa upaya rehabilitasi ekosistem pesisir dapat efektif dan berkelanjutan serta berfungsi dalam melindungi sumberdaya pesisir maupun masyarakatnya,” ujar Andy Affandy.

Sementara itu, Harkyo Hutri Baskoro memaparkan pentingnya desain engineering rehabilitasi yang disusun berdasarkan kondisi alam eksisting di masing-masing lokasi. Menurutnya, pola dan rencana penanaman harus dirancang secara spesifik sesuai karakteristik pesisir setempat agar memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi.
Andan Hamdani selaku ahli ekonomi sumber daya menekankan bahwa jasa ekosistem merupakan nilai utama yang harus dicapai melalui rehabilitasi ekosistem pesisir. Ia menjelaskan bahwa rehabilitasi tidak hanya harus memberikan manfaat ekologis, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan dan well-being masyarakat pesisir secara nyata.

Pada sesi berikutnya, Alin Rahmah Yuliani menjelaskan mekanisme monitoring rehabilitasi ekosistem yang memastikan proses pasca tanam berjalan optimal sehingga fungsi ekosistem yang direhabilitasi dapat pulih dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Sementara itu, Yoppie Christian menambahkan bahwa persoalan tenurial di pesisir Jawa Tengah menjadi salah satu aspek penting yang perlu dibenahi untuk mendukung perlindungan kawasan pesisir secara berkeadilan dan berkelanjutan. Koordinasi dan pembagian wewenang antara pemerintah provinsi dan kabupaten juga penting agar intervensi tidak terkendala soal kewenangan yang membagi laut dan darat secara diametral, pesisir membutuhkan keduanya jika mau dikelola dengan baik. Kehadiran PSN juga dapat menjadi dua mata pedang jika tidak sinkron dengan arahan dan kebijakan daerah.
Diskusi yang berlangsung aktif juga menghasilkan sejumlah masukan strategis dari peserta, salah satunya terkait pentingnya penyediaan peta indikatif area rehabilitasi mangrove oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Peta tersebut diharapkan dapat membantu para pihak menentukan area rehabilitasi yang aman dalam jangka panjang sekaligus memberikan perlindungan terhadap berbagai inisiatif rehabilitasi yang telah berjalan di kawasan pesisir kritis.
Melalui kegiatan ini, PKSPL IPB menegaskan komitmennya dalam mendukung penguatan tata kelola rehabilitasi ekosistem pesisir berbasis ilmu pengetahuan, kolaborasi multi pihak, dan pendekatan keberlanjutan. Kajian yang dihasilkan diharapkan mampu menjadi acuan dalam memperkuat perlindungan wilayah pesisir Jawa Tengah dari ancaman degradasi lingkungan dan perubahan iklim.
Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui penguatan rehabilitasi ekosistem pesisir sebagai upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui perlindungan kawasan pesisir dan mangrove, SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui pemulihan ekosistem dan peningkatan keanekaragaman hayati, SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) melalui perlindungan wilayah pesisir dari abrasi dan bencana, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, swasta, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas pesisir dalam mendukung rehabilitasi ekosistem secara berkelanjutan.
Kontak Media:
📧 humas@pksplipb.or.id
🌐 www.pkspl.ipb.ac.id
📱 Instagram & TikTok: @pkspl_ipb_university
📘 Facebook: PKSPL IPB
📺 YouTube: PKSPL IPB University
