Sungai Ciliwung Jadi Lokasi Prioritas Proyek Pengelolaan Sungai Terpadu di Indonesia

Picture1

Sungai Ciliwung Jadi Lokasi Prioritas Proyek Pengelolaan Sungai Terpadu di Indonesia

Depok, 10 November 2025 — Kepala Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University, Prof. Yonvitner, menghadiri kegiatan Peluncuran The GEF/UNDP/ASEAN Integrated River Basin Management (IRBM) Project yang berlangsung di Hotel The Margo, Depok. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk memperkuat pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) secara terpadu di kawasan Asia Tenggara.

Dalam kegiatan tersebut, Executive Director PEMSEA (Partnerships in Environmental Management for the Seas of East Asia), Aimee Gonzales, menegaskan bahwa pencemaran air masih menjadi tantangan besar yang harus diatasi melalui kolaborasi lintas sektor dan lintas negara.

“Pencemaran air adalah tantangan yang harus dihadapi bersama. Melalui proyek ini, kita memperkuat kapasitas pengelolaan berbasis sungai, memahami sumber masalah, serta menutup kesenjangan sosial dan kelembagaan yang ada,” ujarnya.

Gonzales menjelaskan bahwa proyek IRBM akan dilaksanakan di enam negara peserta, termasuk Indonesia, dengan melibatkan pemangku kepentingan di tingkat lokal, nasional, dan regional — mulai dari pemerintah, sektor swasta, akademisi, perempuan, pemuda, hingga masyarakat adat.

“Kami optimistis proyek ini dapat memberikan solusi konkret terhadap permasalahan pencemaran air. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada komitmen, kepemimpinan, dan kolaborasi semua pihak,” tambahnya.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dalam sambutannya menyampaikan bahwa peluncuran proyek ini menjadi bagian dari upaya regional untuk mengurangi pencemaran laut di kawasan Asia Timur melalui pendekatan pengelolaan sungai terpadu. Di Indonesia, Sungai Ciliwung ditetapkan sebagai lokasi prioritas proyek Integrated River Basin Management (IRBM).

“Langkah ini menjadi tonggak penting, bukan hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi pembangunan berkelanjutan di kawasan regional. Sungai Ciliwung memiliki arti penting bagi ekologi, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat di sepanjang alirannya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa sumber utama pencemaran air di Indonesia berasal dari limbah domestik, industri, dan pertanian, serta pertumbuhan penduduk yang pesat.

“Air adalah sumber kehidupan, dan menjaga kualitasnya merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah berkomitmen menjamin ketersediaan air bersih dan sanitasi berkelanjutan sebagai bagian dari agenda pembangunan nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, PKSPL IPB University menegaskan bahwa pengelolaan wilayah pesisir dan laut tidak dapat dipisahkan dari kondisi sungai di daratan.

“Air yang mengalir dari daratan akan bermuara ke laut, sehingga menjaga laut harus dimulai dari menjaga sungai,” jelas Prof. Yonvitner. Ia juga menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dan edukasi lingkungan melalui langkah sederhana.

“Jangan berhenti di sini. Literasi lingkungan harus terus dikembangkan, termasuk di sekolah-sekolah. Ajak anak-anak untuk membiasakan diri memungut sampah. Gerakan ‘Satu Hari Satu Pungut Sampah’ bisa menjadi kebiasaan baik, layaknya sedekah subuh. Jika dilakukan setiap hari, dampaknya besar bagi lingkungan,” ujarnya.

PKSPL IPB berkomitmen untuk terus menjadi pusat edukasi dan literasi ekologi bagi masyarakat. Upaya menjaga sungai dan laut yang berkelanjutan ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak serta SDG 14 tentang Ekosistem Lautan,” pungkasnya.