Resmi Dibuka, PKSPL IPB University dan Kemenhub Selenggarakan Pelatihan Ahli Kepelabuhanan Angkatan 51
Resmi Dibuka, PKSPL IPB University dan Kemenhub Selenggarakan Pelatihan Ahli Kepelabuhanan Angkatan 51


Bogor, 23 November — Upaya penguatan kapasitas sumber daya manusia sektor maritim kembali diperkuat melalui kerja sama antara Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University dan Direktorat Kepelabuhanan Kementerian Perhubungan RI. Hal ini ditandai dengan dibukanya Pelatihan Ahli Kepelabuhanan Angkatan 51, yang dimulai hari ini di IPB Convention Center, Bogor, dan akan berlangsung hingga Sabtu mendatang. Program ini menjadi bagian penting dalam mendukung peningkatan profesionalisme tenaga kepelabuhanan di tengah kebutuhan industri logistik dan transportasi laut yang terus berkembang.
Pelatihan tahun ini diikuti oleh 24 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, dengan latar belakang profesional yang beragam di bidang pelabuhan dan kemaritiman. Kehadiran peserta lintas wilayah dan instansi mencerminkan semakin tingginya kebutuhan akan tenaga ahli yang kompeten dan tersertifikasi di sektor pelabuhan nasional.
Dalam sambutan pembukaan, Kepala PKSPL IPB University, Prof. Dr. Yonvitner, S.Pi., M.Si., menegaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar agenda rutin, tetapi bagian dari kontribusi jangka panjang IPB dalam pembangunan sektor maritim. Ia menyampaikan bahwa program ini telah mencapai angkatan ke-51 dan menghasilkan lebih dari 1.500 alumni yang telah dinyatakan kompeten oleh Kementerian Perhubungan dan IPB University.
Prof. Yonvitner menjelaskan alasan akademik dan strategis IPB menyelenggarakan program ini. Sebagai kampus dengan mandat keilmuan mencakup pertanian, kelautan, dan biosains, serta memiliki Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), pelatihan ini menjadi bagian dari tanggung jawab moral dan ilmiah dalam mendukung pembangunan nasional.
“Sepertiga mandat kami ada di kelautan. Teknologi kelautan terhubung langsung dengan logistik dan kepelabuhanan. Karena itu, pelatihan ini bukan sekadar program, tetapi bentuk penguatan peran IPB dalam ekosistem maritim,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa PKSPL memegang posisi strategis sebagai sekretariat PEMSEA Network di Asia Timur, dengan 25 anggota dari 10 negara. Hal ini menempatkan IPB dalam posisi penting sebagai pusat pembelajaran regional.
“Indonesia harus menjadi pionir, bukan sekadar pengikut. Konsep seperti blue port, sea building, hingga standar logistik kelautan tidak boleh dikendalikan negara lain. SDM tetap menjadi fondasi, bahkan saat teknologi seperti AI semakin berkembang,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Kepelabuhanan Kementerian Perhubungan RI, Muhammad Anto Julianto, S.E., M.S., dalam sambutannya menyoroti kondisi riil pelabuhan di Indonesia. Berdasarkan kunjungan langsung ke lapangan, ia menyebutkan bahwa banyak pelabuhan yang belum dikomersialisasikan karena keterbatasan anggaran.
“Dari ratusan pelabuhan yang ada, masih banyak yang belum komersial, terutama di kawasan timur. Anggaran terbatas, dan kondisi ini menuntut inovasi serta kolaborasi,” jelasnya.
Ia membuka peluang kerja sama pemanfaatan fasilitas pelabuhan yang berada di bawah pengelolaan pemerintah.
“Jika ada yang ingin bekerja sama, fasilitas seperti dermaga dan peralatan dapat dimanfaatkan sesuai aturan. Pemerintah terbuka bagi kolaborasi yang membawa dampak bagi masyarakat dan pelabuhan,” ujarnya.
Pelatihan ini sekaligus memperkuat kontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam mendukung pendidikan berkualitas, pembangunan infrastruktur maritim, pekerjaan layak, perlindungan ekosistem laut, dan kemitraan berkelanjutan. Melalui peningkatan kapasitas SDM, pelatihan ini berperan dalam mendorong transformasi pelabuhan Indonesia menuju pengelolaan yang modern, efisien, dan berdaya saing global.
Dengan dimulainya Pelatihan Ahli Kepelabuhanan Angkatan 51 ini, PKSPL IPB University dan Kementerian Perhubungan menegaskan komitmen bersama untuk membangun SDM maritim Indonesia yang unggul, adaptif, dan siap menjawab tantangan masa depan.
