PKSPL IPB Gelar ICMMBT 2025: Saatnya Pangan Biru Jadi Jawaban Krisis Global

WhatsApp Image 2025-08-02 at 18.11.17_661602d5

PKSPL IPB Gelar ICMMBT 2025: Saatnya Pangan Biru Jadi Jawaban Krisis Global

Yogyakarta, 30 Juli 2025

Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University kembali menunjukkan eksistensinya sebagai pusat unggulan dalam membangun jejaring dan pertukaran pengetahuan internasional di bidang kelautan dan bioteknologi. Pada hari ini, 30 Juli 2025, The 5th International Conference on Integrated Coastal Management & Marine Biotechnology (ICMMBT) resmi dibuka di Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta. Konferensi ini mengusung tema besar “Blue Food Nexus: Harnessing Solutions for Global Food Security and Ocean Health”, sebagai wujud komitmen bersama dalam menjawab tantangan krisis pangan dan kesehatan laut secara berkelanjutan.

Dengan nuansa penuh kekhidmatan, acara pembukaan diawali oleh pemutaran video pembuka, dilanjutkan dengan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dan Hymne IPB University. Momen ini tidak hanya menjadi simbol penghormatan terhadap nilai-nilai kebangsaan dan akademik, tetapi juga penanda pentingnya sinergi antara institusi, pemerintah, dan komunitas ilmiah dalam membangun masa depan wilayah pesisir dan laut yang resilien.

Dalam sambutan pembukanya, Prof. Dr. Yonvitner, Kepala PKSPL IPB University, menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif lintas disiplin dan lintas batas negara. Beliau menyampaikan bahwa tantangan perubahan iklim, degradasi ekosistem pesisir, dan ancaman terhadap ketahanan pangan laut tidak dapat diselesaikan secara sektoral. Diperlukan integrasi keilmuan, teknologi, kebijakan, dan partisipasi masyarakat untuk menciptakan transformasi nyata di wilayah pesisir.

Sambutan dilanjutkan oleh Rektor IPB University, Prof. Dr. Arif Satria, yang menyampaikan refleksi mendalam tentang pentingnya inovasi dan sains sebagai fondasi dalam membangun ekonomi biru yang tidak hanya berkelanjutan secara ekologis, tetapi juga inklusif secara sosial dan menguntungkan secara ekonomi. Beliau menegaskan bahwa pangan biru harus dilihat sebagai solusi strategis global yang membutuhkan kerangka kebijakan progresif.

Konferensi ini juga semakin bermakna dengan sambutan dari Rektor Çanakkale Onsekiz Mart University, Turki, Prof. Dr. Ramazan Cuneyt Erenoglu, yang menegaskan pentingnya komitmen global dalam pendidikan dan riset kelautan. Dalam pidatonya, ia menyoroti pentingnya membangun literasi kelautan sejak dini dan memperkuat peran universitas sebagai agen perubahan di bidang kelautan.

Puncak sesi pembukaan ditandai dengan keynote speech oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, yang dalam kesempatan ini diwakili oleh Deputi Bidang Koordinasi Sumberdaya Maritim, Bapak Dandy Satria Iswara, S.IP, M.Si. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa kebijakan pangan biru nasional harus menjadi arus utama dalam strategi ketahanan pangan nasional, dengan memperhatikan daya dukung lingkungan laut serta kesejahteraan masyarakat pesisir.

Kehadiran tokoh-tokoh nasional dan internasional ini mencerminkan besarnya perhatian dan antusiasme terhadap pengembangan pangan biru sebagai bagian dari solusi multidimensi terhadap tantangan global. ICMMBT 2025 tidak hanya menjadi ruang ilmiah, tetapi juga platform strategis yang menjembatani antara ilmu pengetahuan, kebijakan, dan implementasi nyata di tingkat lokal, nasional, dan global.

Memasuki sesi utama (Key Plenary Session), para pemikir global dari dunia akademik dan perencana kebijakan tampil menyampaikan gagasan-gagasan strategis yang menggugah kesadaran akan pentingnya pendekatan inovatif dalam pembangunan kelautan dan pesisir. Moderator Prof. Ario Damar dari PKSPL IPB University membuka sesi dengan pengantar yang menekankan pentingnya pengelolaan terintegrasi sebagai fondasi keberlanjutan ekosistem pesisir dan laut.

Prof. Dr. Qinhua Fang dari Xiamen University, Tiongkok, menjadi pembicara pertama yang membahas pentingnya penerapan Integrated Coastal Management (ICM) untuk membangun ekosistem pangan biru yang sehat, efisien, dan berketahanan tinggi terhadap perubahan iklim.

Dilanjutkan oleh Prof. Jim Leape dari Stanford University, Amerika Serikat, yang mengangkat urgensi optimalisasi potensi blue food melalui inovasi teknologi, pemodelan rantai pasok yang berkelanjutan, dan penguatan komunitas pesisir sebagai aktor utama dalam sistem pangan laut.

Dari perspektif nasional, Moh. Rahmat Mulianda dari Bappenas memaparkan arah kebijakan pembangunan jangka menengah Indonesia yang mulai mengarusutamakan blue food agenda dalam dokumen perencanaan strategis nasional. Ia menegaskan bahwa integrasi lintas sektor menjadi syarat utama keberhasilan agenda tersebut.

Sesi ditutup secara inspiratif oleh Etwin Kuslati Sabarini dari Climateworks Centre yang menyampaikan paparan berjudul “Sea of Opportunity”. Dalam presentasinya, ia menekankan bahwa kontribusi laut terhadap pencapaian target Nationally Determined Contributions (NDC) Indonesia sangat bergantung pada keberhasilan pembangunan ekonomi biru yang tidak hanya adaptif terhadap iklim, tetapi juga regeneratif terhadap lingkungan.

Diskusi berjalan dinamis dan terbuka, mempertemukan gagasan lintas sektor dan lintas negara. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi terhadap potensi kolaborasi dan penguatan aksi nyata berbasis bukti ilmiah. Konferensi ini diharapkan menjadi katalisator lahirnya terobosan-terobosan baru dalam formulasi kebijakan, riset strategis, dan inisiatif lapangan yang mampu menjawab tantangan dan peluang di wilayah pesisir dan laut Indonesia serta kawasan.

Pada sesi hari pertama, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan peluncuran SEAFOAM Blue Carbon Training Program yang digagas oleh Climateworks Centre sebagai upaya memperkuat kapasitas nasional dalam pengelolaan karbon biru yang berkelanjutan. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan peluncuran dokumen strategi Visi Kawasan Konservasi dan OECM 2045: Panduan Terpadu Menuju Laut Indonesia Lestari dan Berkelanjutan, yang dipresentasikan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan, bersama Konsorsium MPA dan OECM yang terdiri dari WWF Indonesia, Coral Triangle Center (CTC), RARE Indonesia, Pesisir Lestari (Pelestari), Rekam Nusantara, dan Konservasi Indonesia.

Selanjutnya, turut diluncurkan pula buku monumental bertajuk Maritim, Kelautan, dan Perikanan Indonesia 2045: Menguatkan Negara Kepulauan yang Berdaulat, Tangguh, dan Berkelanjutan, yang disusun oleh para pakar lintas disiplin keilmuan sebagai kontribusi strategis menuju tercapainya visi Indonesia Emas 2045. Buku ini memuat 25 bab dengan melibatkan 49 kontributor dari berbagai bidang, yang secara komprehensif merefleksikan kompleksitas tantangan sekaligus besarnya potensi sektor kelautan dan perikanan nasional dalam mendukung ketahanan ekonomi, kedaulatan maritim, serta keberlanjutan sumber daya laut Indonesia.