PKPSL IPB Mendukung Penguatan Perempuan Nelayan

demak-focus_1

PKPSL IPB Mendukung Penguatan Perempuan Nelayan

Pada tanggal 17 Januari 2024 di Kabupaten Demak dalam rangka program FOCUS (Fisherfolk Empowerment for Climate Resilience and Sustainability) bersama Yayasan HUMANIS, KIARA, dan WALHI, PKSPL IPB University melakukan kunjungan ke Kabupaten Demak. Di tengah kunjungan, PKSPL IPB University bertemu dengan Puspita Bahari, sebuah organisasi perempuan. Organisasi ini sangat terkenal baik secara lokal maupun nasional karena telah menerima banyak penghargaan.

Pada tahun 2022, Puspita Bahari secara resmi menjadi yayasan setelah berdiri sejak tahun 2005. Saat ini, yayasan Puspita Bahari memiliki sekitar 130 anggota, semuanya perempuan yang bekerja sebagai nelayan di pesisir Kabupaten Demak.

Yayasan Puspita Bahari memperjuangkan penggunaan istilah “perempuan nelayan”. Menurut Masnuah, 49 tahun, Ketua Yayasan Puspita Bahari, “status perempuan nelayan” ini sangat penting bagi Kami karena di sana ada hak yang harus dilindungi oleh undang-undang. Status tersebut juga merupakan bukti eksistensi perempuan yang perlu diakui secara sosial. Pada dasarnya, perempuan-perempuan di Yayasan Puspita Bahari bekerja sebagai nelayan; mereka menangkap ikan, mengolah hasil tangkapan mereka, dan juga bertanggung jawab atas kapal, alat produksi perikanan tangkap. Mereka (perempuan nelayan) bukanlah bagian dari pekerjaan suaminya atau buruh nelayan, tapi menjadi bagian penting dalam setiap aktivitas sebagai nelayan.

Masnuah menambahkan, “Tidak semua orang, apalagi suami, mau mengakui bahwa perempuan nelayan itu ada. Ada yang menganggapnya tabu atau malu ketika seorang suami bekerja di laut bersama istrinya, selain itu tidak ada alasan lain kenapa kok susah mengakui bahwa perempuan nelayan itu ada.” Dalam masyarakat nyata, masalah misoginis menghalangi nelayan perempuan untuk berkembang, menjadi mandiri, dan memiliki otoritas untuk mengambil keputusan tentang aset produksinya.

Karena itu, Puspita Bahari diterima dengan baik oleh PKSPL IPB University dan mitra kerja dalam Konsorsium FOCUS sebagai model bagaimana perjuangan perempuan nelayan harus ditegakkan dan menjadi titik pijak untuk membangun ketahanan masyarakat pesisir yang inklusif. Karena pemberdayaaan masyarakat tanpa mempertimbangkan ketidakadilan struktural dan kultural yang dialami perempuan akan sulit untuk dijalankan. Puspita Bahari menjadi contoh bahwa perempuan tidak hanya meminta kesetaraan dengan laki-laki, tetapi juga memiliki kekuatan untuk membangun usaha kreatif, mandiri, dan berwawasan ekologis yang peduli dengan masalah lingkungan di pesisir.

Saat ini, Puspita Bahari tidak hanya berfokus pada pemberdayaan, tetapi juga menghasilkan produk perikanan pada skala usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) berbasis sumber daya lokal. Dia juga mendukung kemandirian pangan, melindungi penyintas kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), membangun manajemen keorganisasian perempuan, melakukan kampanye lingkungan bersih, dan bermimpi untuk memiliki usaha yang dapat meningkatkan bisnis tani dan nelayan di daerah tersebut.

Apa yang menjadi harapan perempuan nelayan di Puspita Bahari ini berkesesuaian dengan tujuan-tujuan pembangunan berkelajutan/sustainable development goals (SDGs), khususnya SDGs 14-life bellow water dengan tujuan melestarikan dan memanfaatkan samudera, laut, dan sumber daya kelautan secara berkelanjutan untuk pembangunan berkelanjutan. Selain itu program ini juga memiliki tujuan dalam rangka penguatan langkah-langkah yang tepat dan segera untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya bagi masyarakat, ini sesuai dengan tujuan SDGs 13-climate action.  (Yoppie C. & Nurdin A.)