Peluncuran Buku “Kakap di Indonesia” dan Suara Komunitas Pesisir dalam Mendorong Ketahanan Pangan Laut

focus5

Peluncuran Buku “Kakap di Indonesia” dan Suara Komunitas Pesisir dalam Mendorong Ketahanan Pangan Laut

Dalam rangkaian acara konferensi yang mengusung tema pembangunan ekonomi biru dan ketahanan pangan laut, diluncurkan sebuah publikasi penting berjudul “Kakap di Indonesia”. Buku ini merupakan hasil kolaborasi antara Yayasan Rekam Nusantara dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), yang mencerminkan komitmen kuat terhadap pengelolaan perikanan berkelanjutan berbasis ilmu pengetahuan dan data ekologi.

Buku ini menyajikan eksplorasi ilmiah terhadap 65 spesies kakap (Lutjanidae) yang ditemukan di perairan Indonesia, dilengkapi informasi komprehensif terkait taksonomi, biologi, ekologi, distribusi, serta status konservasi dari setiap spesies. Keunggulan buku ini terletak pada pendekatan ilmiah yang disajikan secara visual menarik dan mudah dipahami, sehingga dapat diakses oleh kalangan peneliti, pengambil kebijakan, praktisi perikanan, hingga masyarakat umum.

Salah satu poin krusial yang diangkat dalam buku ini adalah pentingnya identifikasi spesies yang akurat sebagai dasar penilaian stok ikan dan perumusan kebijakan perikanan yang efektif. Kesalahan identifikasi dapat menyebabkan bias dalam manajemen sumber daya dan melemahkan efektivitas konservasi. Oleh karena itu, buku ini diharapkan menjadi referensi strategis dalam upaya membangun pengelolaan perikanan kakap yang adil, inklusif, dan berbasis ekosistem.

Selain peluncuran buku, sesi juga dirangkaikan dengan “Voice Community” yang difasilitasi oleh FOCUS (Forum for Coastal Communities for Sustainable Blue Food). Sesi bertajuk “Coastal Voices for Blue Food: Initiatives and Hopes from the Pantura Communities” ini menghadirkan kisah dan aspirasi masyarakat pesisir utara Jawa (Pantura), yang berbagi pengalaman nyata mereka dalam menjaga keberlanjutan laut dan memperkuat ketahanan pangan berbasis sumber daya pesisir.

Sesi ini menjadi ruang reflektif yang menyuarakan kebutuhan, tantangan, dan harapan komunitas akar rumput dalam menghadapi dinamika perubahan iklim, penurunan stok ikan, dan tekanan ekonomi. Melalui pendekatan inklusif dan partisipatif, komunitas Pantura menunjukkan bahwa pengetahuan lokal, solidaritas sosial, dan inovasi berbasis kebutuhan nyata menjadi pondasi penting dalam transformasi sistem pangan laut di Indonesia.

Rangkaian kegiatan ini secara langsung berkontribusi terhadap SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui penguatan sistem pangan laut berkelanjutan; SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui perlindungan spesies dan habitat laut; serta SDG 17 (Kemitraan) dengan mendorong kolaborasi lintas sektor antara komunitas, lembaga ilmiah, dan organisasi masyarakat sipil. Inisiatif ini juga mendukung SDG 13 (Aksi Iklim) dengan memperkuat kapasitas adaptasi komunitas pesisir dalam menghadapi dampak perubahan iklim.