Key Plenary: Menjembatani Pengetahuan Global untuk Masa Depan Laut Berkelanjutan

plenary

Key Plenary: Menjembatani Pengetahuan Global untuk Masa Depan Laut Berkelanjutan

Sesi Key Plenary pada hari kedua konferensi menghadirkan ruang diskusi lintas disiplin dan pengalaman global untuk menjawab tantangan kelautan masa depan. Dipandu oleh Dr. Handoko Adi Susanto dari ATSEA Project, sesi ini dibuka dengan penekanan pentingnya konferensi sebagai forum strategis bagi pertukaran gagasan dan kolaborasi kawasan Asia-Pasifik dalam merumuskan kebijakan laut berbasis sains dan inklusi.

Sorotan utama dalam sesi ini datang dari Prof. Sebahattin Ergün dari Çanakkale Onsekiz Mart University, Turki, yang menyampaikan pemaparan mendalam tentang peran akuakultur berkelanjutan dalam memperkuat ketahanan pangan laut global. Beliau menjelaskan bahwa sistem akuakultur yang inovatif dan efisien memiliki potensi besar untuk menjawab tantangan krisis pangan dunia, dengan tetap menjaga keseimbangan ekologis dan menjamin kesejahteraan sosial masyarakat pesisir.

Prof. Ergün menekankan bahwa integrasi antara teknologi budidaya modern, konservasi lingkungan, dan pendekatan sosial-ekonomi menjadi kunci keberhasilan transformasi sektor akuakultur. Ia juga menyoroti bahwa praktik akuakultur yang tidak berkelanjutan berisiko memperburuk degradasi habitat laut, memperbesar emisi, serta memperlebar kesenjangan sosial. Oleh karena itu, diperlukan desain kebijakan dan program riset yang holistik untuk mengembangkan model akuakultur yang rendah emisi, berbasis komunitas, dan tangguh terhadap perubahan iklim.

Beliau juga menyoroti pentingnya membangun jaringan internasional antar universitas, pemerintah, dan pelaku usaha untuk mempercepat inovasi dan adopsi teknologi dalam sistem produksi pangan laut yang regeneratif. Akuakultur, menurutnya, bukan hanya solusi pangan, tetapi juga instrumen strategis dalam pembangunan ekonomi biru yang inklusif dan berkeadilan.

Pemaparan Prof. Sebahattin Ergün mencerminkan kontribusi nyata terhadap pencapaian SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui penguatan sistem pangan laut yang efisien dan berkelanjutan; SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) dengan pengembangan teknologi budidaya adaptif; SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) lewat solusi budidaya rendah emisi dan tangguh terhadap perubahan iklim; serta SDG 14 (Ekosistem Laut) melalui praktik akuakultur yang menjaga kesehatan ekosistem laut. Selain itu, SDG 17 (Kemitraan) juga tercermin melalui ajakan Prof. Ergün untuk memperkuat kerja sama riset dan inovasi lintas negara dalam mendorong transformasi sistem pangan laut global.