Hari Laut Nasional 2025: PKSPL IPB Tekankan Inovasi, Literasi, dan Keadilan dalam Pembangunan Kelautan Berkelanjutan
Hari Laut Nasional 2025: PKSPL IPB Tekankan Inovasi, Literasi, dan Keadilan dalam Pembangunan Kelautan Berkelanjutan

Bogor, 3 Juli 2025 – Dalam momentum peringatan Hari Laut Nasional 2025, Kepala Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University, Prof. Dr. Yonvitner, hadir sebagai narasumber dalam program Jendela Negeri TVRI untuk membahas urgensi transformasi tata kelola laut Indonesia secara adil, inklusif, dan berkelanjutan.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia memiliki potensi kelautan luar biasa—baik dari sisi ekosistem seperti mangrove, terumbu karang, maupun potensi ekonomi melalui sektor perikanan, pariwisata, dan energi laut. Namun, menurut Prof. Yonvitner, potensi tersebut belum sepenuhnya dioptimalkan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat.
“Potensi laut Indonesia ibarat pajangan: tampak indah, tetapi belum seluruhnya bisa kita raih sebagai manfaat,” tegas Prof. Yonvitner.
Empat Pilar Transformasi Laut Indonesia

Prof. Yonvitner menggarisbawahi empat tantangan utama dalam pemanfaatan laut: ideologi maritim, harmonisasi regulasi, kesiapan inovasi, dan kapasitas masyarakat. Menurutnya, pembangunan kelautan tidak bisa hanya dilihat sebagai sektor ekonomi semata, tetapi harus ditanamkan sebagai nilai dalam sistem berpikir bangsa.
“Kalau kita ingin membangun negara kepulauan, maka ideologinya pun harus kepulauan. Perspektif pembangunan tidak lagi darat-sentris, tapi agro maritim,” ujarnya.
Di samping itu, beliau menyoroti persoalan regulasi yang masih belum sinkron, riset yang belum terdiseminasi, serta kapasitas masyarakat pesisir yang masih perlu diperkuat, khususnya dalam pengelolaan ekowisata, perikanan, hingga mitigasi dampak perubahan iklim.
Inovasi dan Generasi Muda sebagai Kunci Blue Economy
Dalam sesi dialog, Prof. Yonvitner juga menegaskan pentingnya riset terapan dan inovasi teknologi, termasuk Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (AI) untuk efisiensi budidaya laut.
“Kalau kita ingin menjadikan perikanan menarik bagi generasi muda, maka harus dikemas dengan inovasi yang usable dan adaptif,” katanya.
Beliau menyebut bahwa engagement lulusan sektor kelautan masih rendah karena stigma pekerjaan laut yang dipandang kurang sejahtera. Untuk itu, dibutuhkan transformasi kebijakan sosial—seperti insentif pendidikan dan perlindungan sosial bagi nelayan muda—agar sektor kelautan menjadi lebih menjanjikan secara ekonomi dan prestise.
Mitigasi Krisis Iklim dan Krisis Plastik
Prof. Yonvitner turut menyoroti dampak perubahan iklim dan polusi plastik terhadap ekosistem laut. Beliau menyebut bahwa mitigasi dan adaptasi adalah langkah tak terelakkan—baik melalui perlindungan mangrove, pengurangan risiko bencana pesisir, hingga perubahan budaya konsumsi plastik di hulu.
“Sebersih apapun laut kita disisir, kalau sungainya masih kirim sampah, ya laut kita tetap akan menderita,” ujarnya kritis.
Blue Economy: Potensi Besar, Tapi Butuh Arah yang Tegas

Terkait blue economy, Prof. Yonvitner mengajak semua pihak untuk memiliki kerangka acuan bersama, seperti 11 sektor yang dirumuskan Bappenas. Beliau mengingatkan bahwa pembangunan harus mengedepankan keberlanjutan, keadilan, dan kesejahteraan masyarakat lokal, terutama dalam konteks pembangunan pulau-pulau kecil.
“Kalau kita tergiur ekonomi cepat, tanpa memikirkan sustainability, maka kita bisa mewariskan masalah ekologis dan sosial jangka panjang,” tuturnya.
Mendorong Literasi, Akses, dan Keadilan Sosial
Di akhir sesi, Prof. Yonvitner menekankan pentingnya penguatan kapasitas adaptif masyarakat pesisir, peningkatan literasi kelautan, serta penyediaan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan penghidupan yang layak bagi nelayan dan petambak.
“Kalau kita bisa meyakinkan bahwa jadi nelayan itu ada jaminan hidup—akses pendidikan, kesehatan—maka kita tidak lagi melihat profesi nelayan sebagai pilihan terakhir,” pungkasnya.
PKSPL IPB University akan terus memperkuat peran sebagai institusi ilmiah yang menjembatani pengetahuan, kebijakan, dan aksi masyarakat dalam menjaga laut sebagai sumber kehidupan yang berkelanjutan bagi generasi kini dan mendatang.
Terkait dengan capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), partisipasi aktif PKSPL IPB University dalam advokasi pembangunan kelautan berkelanjutan secara nyata berkontribusi terhadap SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), SDG 14 (Ekosistem Lautan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Kontribusi tersebut tercermin melalui penguatan kapasitas ekonomi masyarakat pesisir; peningkatan literasi kelautan dan penyuluhan berbasis riset; penciptaan lapangan kerja yang layak dan inovatif di sektor perikanan; penerapan pendekatan mitigasi dan adaptasi berbasis ekosistem laut; penguatan konservasi yang berbasis sains dan kebijakan; serta sinergi antar akademisi, pemerintah, media, dan komunitas dalam mendorong tata kelola sumber daya kelautan yang inklusif dan berkelanjutan.
Kontak Media:
📧 humas@pksplipb.or.id
🌐 www.pkspl.ipb.ac.id
📱 Instagram & TikTok: @pkspl_ipb_university
📘 Facebook: PKSPL IPB
📺 YouTube: PKSPL IPB University
