FOCUS GROUP DISCUSSION: SINERGI SERENTAK, RESTOCKING SPESIES ENDEMIK DANAU SINGKARAK

WhatsApp Image 2025-12-30 at 11.59.57

FOCUS GROUP DISCUSSION: SINERGI SERENTAK, RESTOCKING SPESIES ENDEMIK DANAU SINGKARAK

Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University, Lembaga Riset Internasional Kelautan dan Kemaritiman (LRI-iMAR), serta The Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN), bekerja sama dengan Pemerintah Kota Padang, Sumatera Barat, telah sukses menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dengan topik “Efektivitas Restocking Ikan Bilih di Danau Singkarak”. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 15 Juli, bertempat di Kantor Gubernur Kota Padang, Sumatera Barat. FGD ini menghadirkan para praktisi serta perwakilan dari kalangan akademisi, pemerintah, sektor industri, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM), guna menghimpun beragam perspektif dan masukan konstruktif terkait upaya pelestarian ikan bilih di Danau Singkarak.

Acara diawali dengan paparan latar belakang oleh Manager GAIN, Ibnu Budiman, PhD., serta Kepala PKSPL IPB University, Prof. Dr. Yonvitner. Selanjutnya sambutan dari Staff Ahli Gubernur Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan, Drs. Jasman Rizal, MM, sebagai Perwakilan Gubernur Sumatera Barat sekaligus menjadi penanda pembukaan resmi kegiatan FGD.

Program Manager Environment GAIN, Ibnu Budiman, Ph.D., memberi paparan singkat mengenai kegiatan restoking ikan kecil (bilih) yang dilakukan GAIN Indonesia. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari hasil studi yang dilakukan GAIN sebelumnya, bahwa salah satu sumber protein yang tinggi gizi dan ramah lingkungan adalah ikan kecil. Dari kajian lebih lanjut, salah satunya terpilih ikan bilih di Danau Singkarak, namun keberadaannya ternyata semakin terancam. Ibnu Budiman, Ph.D. menekankan bahwa restocking ikan bilih perlu diperkuat sebagai upaya menjaga ketahanan pangan berbasis ikan lokal bergizi tinggi dan berjejak lingkungan rendah. Integrasi data hasil penelitian juga menjadi dasar penting dalam pengambilan kebijakan yang lebih tepat sasaran.

“Isu pangan di Indonesia menjadi fokus utama dalam mendukung program swasembada pangan dan blue food, salah satunya melalui pemanfaatan ikan kecil seperti ikan bilih yang terbukti memiliki kandungan gizi tinggi dan dampak lingkungan yang rendah. Namun, stok ikan bilih terus menurun akibat penangkapan berlebih, terutama tanpa adanya restocking yang memadai. Padahal, restocking memiliki potensi untuk memulihkan ekosistem dan meningkatkan produksi, meskipun pelaksanaannya belum masif. Proyek ini bertujuan memperkuat upaya restocking dan hasilnya akan diintegrasikan ke dalam dashboard data penelitian sebagai basis pengambilan kebijakan.”

Sementara itu, Kepala PKSPL IPB University, Prof. Dr. Yonvitner, menambahkan bahwa Danau Singkarak memiliki potensi besar dalam pengembangan perikanan danau berkelanjutan, terutama melalui program restocking ikan bilih:

“Kondisi geografis Danau Singkarak dengan ekosistem danaunya yang unik memiliki kemiripan dengan wilayah danau di Swiss atau China, sehingga berpotensi untuk mengadopsi pendekatan pengelolaan serupa. Mandat pengelolaan perikanan mendorong pentingnya restocking ikan bilih, yang bernilai gizi dan ekonomi tinggi. Secara ekologis, ikan bilih menjadi indikator kualitas lingkungan, sementara secara sosial budaya, ia menjadi identitas lokal. Namun, statusnya yang rentan menunjukkan tantangan dalam menjaga keberlanjutan stok. Program ini berfokus pada evaluasi efektivitas restocking, peningkatan partisipasi stakeholder, penguatan monitoring, serta integrasi data ekologi dengan aspek sosial ekonomi dan konsumsi lokal. Isu-isu penting terkait ikan bilih meliputi biologi reproduksi, kualitas air, kebijakan, dan penangkapan yang berkelanjutan.”

Selanjutnya dalam sambutannya sebagai pembuka simbolis dimulainya FGD, Perwakilan Gubernur Sumatera Barat, Drs. Jasman Rizal, MM, menyampaikan pentingnya pelestarian ikan bilih sebagai spesies endemik di Danau Singkarak dan bagaimana upaya yang dapat dilakukan stakeholder.
“Ikan bilih merupakan spesies endemik Danau Singkarak yang sulit dibudidayakan di tempat lain, dengan kualitas terbaik hanya dihasilkan dari habitat aslinya. Populasinya terus menurun akibat pencemaran, penangkapan berlebih (604,5 ton/tahun, melebihi batas lestari 235 ton/tahun), serta penggunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan. Pengelolaan berkelanjutan perlu dilakukan melalui penyesuaian kebijakan sesuai PERMEN KP No. 36 Tahun 2023, pengawasan penangkapan, pembangunan kawasan reservat, bantuan sarana tangkap, pengelolaan sampah, serta pelibatan berbagai pihak termasuk PLN. Keberadaan ikan bilih berdampak pada aspek ekologi, ekonomi, kesehatan, dan budaya masyarakat.”

Sebagai pemantik, FGD ini dimulai dengan menghadirkan lima narasumber utama dengan masing-masing topik yang dibawa, yaitu:
Marwan, S.Pi., M.Si. (DKP Sumatera Barat) yang membawakan materi berjudul “Kebijakan dan Aksi Daerah dalam Pengelolaan Ikan Bilih”.
Dony Armanto, M.Si (Direktorat SDI, Ditjen Perikanan Tangkap, Koordinator Pengelolaan Perairan Umum Daratan KKP RI) yang menyampaikan materi “Arahan Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Danau Ikan Bilih”.
Deni Zen, S.T. (Kepala Unit Sarana Umum dan Ketua KEHATI PT. Semen Padang), yang menyampaikan materi “Praktik Restocking Ikan Bilih: Target, Tantangan, dan Mekanisme”.
Prof. Dr. Ir. Hafrijal Syandri, M.S. (Peneliti Ikan Bilih, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Bung Hatta) dengan materi “Dukungan Sains Budidaya Perikanan untuk Pelestarian Ikan Bilih serta Rekomendasi Tindak Lanjut.”
Ir. Syoufitri, M.M. (Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Solok) dengan paparan “Pemanfaatan Ikan Bilih sebagai Sumber Pangan dan Upaya Pelestarian di Kabupaten Solok.”

Sesi materi dimoderatori oleh Dr. Taryono, Dosen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University. Selanjutnya diskusi berlangsung secara interaktif dari berbagai pihak, mulai dari pelaku usaha perikanan, masyarakat dari berbagai nagari di Danau Singkarak, pemangku kebijakan, pihak swasta, hingga akademisi. Peserta meyampaikan berbagai pandangan kiritis, kritik, dan saran untuk efektifitas restocking ikan bilih. Isu yang dikemukakan meliputi:
Pengelolaan perikanan perlu dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi.
Upaya peningkatan stok ikan bilih melalui program restocking perlu dilengkapi dengan langkah-langkah lain yang mendukung, seperti pengaturan alat tangkap, pemulihan kualitas habitat, serta pengendalian pencemaran. Tanpa pendekatan yang komprehensif, penambahan kuantitas stok saja tidak akan berdampak optimal. Selain itu, ketersediaan data dasar yang valid sangat diperlukan sebagai acuan untuk evaluasi dan perbaikan kebijakan ke depan.

Tekanan ekologis akibat aktivitas sekitar danau perlu menjadi perhatian bersama.
Kegiatan operasional di sekitar Danau Singkarak, seperti PLTA dan pembuangan limbah domestik maupun industri, telah berkontribusi terhadap penurunan kualitas ekosistem. Fluktuasi tinggi muka air, sedimentasi, dan perpindahan biota dari habitat alaminya menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Rencana pembangunan PLTS pun perlu dikaji secara menyeluruh agar tidak menambah beban terhadap danau yang semakin sensitif.
Penggunaan alat tangkap perlu diarahkan pada praktik yang berkelanjutan.
Saat ini, alat tangkap seperti bagan masih digunakan secara masif, bahkan sebagian belum mengantongi izin resmi. Bagan dinilai memiliki daya tangkap tinggi namun juga berisiko merusak ekosistem jika tidak diawasi secara ketat. Oleh karena itu, perlu adanya penertiban izin serta upaya penyediaan alternatif alat tangkap yang lebih ramah lingkungan dan disesuaikan dengan kondisi lokal.
Perlunya penguatan sinergi dan penerjemahan hasil diskusi ke dalam aksi nyata.
Berbagai forum dan diskusi yang telah diselenggarakan selama ini, termasuk FGD, perlu ditindaklanjuti dalam bentuk kebijakan dan aksi di lapangan. Sinergi antara pemerintah, akademisi, pemangku kepentingan lokal, dan sektor swasta seperti PLN menjadi kunci untuk mendorong langkah-langkah nyata yang mendukung keberlanjutan Danau Singkarak.
Peran masyarakat dan nagari menjadi ujung tombak pengelolaan danau.
Pemerintahan nagari dan masyarakat lokal memegang peranan penting dalam menjaga kelestarian sumber daya perikanan. Usulan dan aspirasi dari tingkat nagari harus menjadi perhatian dalam perumusan program. Selain itu, penguatan kapasitas budidaya mandiri, dukungan mitra pendamping, serta pemberdayaan yang merata akan mendorong peran aktif masyarakat dalam menciptakan ketahanan pangan dan kesejahteraan yang berkelanjutan.

Sesi materi diakhiri dengan tanggapan dari Wakil Bupati Kabupaten Tanah Datar dalam hal menjaga kelestarian Danau Singkarak yang menjadi danau dengan prioritas kedua di Indonesia, beliau menekankan pentingnya sinergi nyata antar-daerah juga lintas sektor — mulai dari masyarakat, pemerintah, akademisi, hingga pihak swasta.

FGD ditutup dengan gagasan tindak lanjut, seperti program aksi, yang menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pengelolaan perikanan Danau Singkarak secara berkelanjutan. FGD ini menjadi agenda penting dalam membahas Langkah Efektif Restocking Ikan Bilih di Danau Singkarak. Dengan menggabungkan perspektif kebijakan, sains, praktik industri, dan kearifan lokal, forum ini membuka ruang bagi kolaborasi yang lebih terarah dan berkelanjutan.

 

Kegiatan FGD ini mencerminkan kontribusi nyata PKSPL IPB University terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 13 (Iklim), SDG 15 (Ekosistem Darat), dan SDG 17 (Kemitraan). Melalui kolaborasi multipihak dan pendekatan berbasis sains, PKSPL turut mendorong pelestarian spesies endemik, pengelolaan sumber daya perikanan berkelanjutan, serta penguatan ketahanan pangan lokal yang ramah lingkungan.

Kontak Media:
📧 humas@pksplipb.or.id
🌐 www.pkspl.ipb.ac.id
📱 Instagram & TikTok: @pkspl_ipb_university
📘 Facebook: PKSPL IPB
📺 YouTube: PKSPL IPB Universit