FOCUS dan Peluncuran Buku “KAKAP di Indonesia”: Simbol Sinergi Ilmu, Komunitas, dan Masa Depan Laut Indonesia
FOCUS dan Peluncuran Buku “KAKAP di Indonesia”: Simbol Sinergi Ilmu, Komunitas, dan Masa Depan Laut Indonesia
Menjadi momen penting dalam rangkaian 5th International Conference on Integrated Coastal Management and Marine Biotechnology (ICMMBT) 2025, sesi peluncuran program FOCUS (Forum for Coastal Communities for Sustainable Blue Food) dan buku “KAKAP di Indonesia” menambahkan dimensi intelektual sekaligus emosional pada forum yang berorientasi pada masa depan kelautan Indonesia.
Program FOCUS diluncurkan sebagai inisiatif lintas komunitas dan pemangku kepentingan untuk memperkuat peran masyarakat pesisir dalam mengembangkan sistem pangan biru yang berkelanjutan. Forum ini dirancang sebagai ruang dialog, advokasi, dan aksi kolaboratif dalam mengarusutamakan suara komunitas pesisir dalam kebijakan dan riset kelautan.
Peluncuran ini juga dirangkaikan dengan perkenalan buku “KAKAP di Indonesia”, sebuah karya dokumentasi yang lahir dari kolaborasi antara Rekam Nusantara Foundation dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Buku ini merekam dinamika sosial-ekologis perikanan kakap-kerapu di Indonesia, termasuk potret keseharian nelayan, tantangan keberlanjutan, hingga strategi pengelolaan berbasis komunitas. Dengan pendekatan ilmiah dan naratif, buku ini menjadi cerminan integrasi antara sains, budaya lokal, dan advokasi untuk mendorong tata kelola perikanan yang lebih adil dan inklusif.
Peluncuran ini bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi simbol kuat sinergi antara ilmu pengetahuan, gerakan masyarakat sipil, dan kerja dokumentasi sebagai landasan transformasi pengelolaan sumber daya laut Indonesia. Ini juga menegaskan bahwa keberlanjutan perikanan bukan hanya soal regulasi, tetapi juga soal manusia, narasi, dan keterhubungan sosial-ekologis yang menyertainya.
Inisiatif ini memberikan kontribusi nyata terhadap SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui penguatan sistem pangan laut yang berbasis komunitas dan berkelanjutan. SDG 14 (Ekosistem Laut) tercermin dalam upaya dokumentasi dan advokasi pengelolaan perikanan lestari. Sementara SDG 17 (Kemitraan) terwujud dalam kolaborasi berbagai pihak—mulai dari masyarakat pesisir, LSM, hingga peneliti—untuk mendorong perubahan sistemik dalam tata kelola laut Indonesia.
