Integrated Coastal Management Kunci Ketahanan Pangan Biru: Paparan Prof. Dr. Qinhua Fang di ICMMBT 2025

WhatsApp Image 2025-08-04 at 16.38.46_597a3818

Integrated Coastal Management Kunci Ketahanan Pangan Biru: Paparan Prof. Dr. Qinhua Fang di ICMMBT 2025

Yogyakarta, 30 Juli 2025 — Konferensi Internasional ke-5 tentang Integrated Coastal Management and Marine Biotechnology (ICMMBT) 2025 dibuka dengan paparan ilmiah dari Prof. Dr. Qinhua Fang, akademisi senior dari Xiamen University, Tiongkok, yang dikenal sebagai salah satu pionir dalam penerapan Integrated Coastal Management (ICM) di kawasan Asia Timur. Dalam pidatonya, Prof. Fang menekankan pentingnya ICM sebagai pendekatan multidisipliner dan lintas sektor untuk membangun sistem pangan biru yang sehat, efisien, dan adaptif terhadap tekanan perubahan iklim.

Menurut Prof. Fang, pengelolaan wilayah pesisir yang terintegrasi merupakan fondasi krusial bagi ketahanan pangan global, terutama dalam konteks ekosistem laut yang terus menghadapi degradasi akibat aktivitas manusia, eksploitasi berlebih, dan pemanasan global. “Kita tidak bisa lagi melihat laut secara terpisah dari daratan, atau sektor perikanan sebagai entitas tunggal. ICM adalah instrumen kebijakan dan sains yang menyatukan seluruh kepentingan – dari konservasi, produksi, hingga perlindungan sosial masyarakat pesisir,” ujarnya di hadapan ratusan peserta dari lebih dari 20 negara.

Lebih lanjut, Prof. Fang menyoroti keberhasilan penerapan ICM di berbagai wilayah Tiongkok yang menghasilkan model pembangunan pesisir berkelanjutan, termasuk peningkatan produktivitas akuakultur rendah emisi, restorasi mangrove dan padang lamun, serta integrasi sistem peringatan dini berbasis teknologi digital. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi riset dan kebijakan antarnegara di kawasan Asia-Pasifik untuk mempercepat penerapan ICM berbasis sains dan masyarakat.

“Ke depan, tantangan terbesar kita bukan hanya bagaimana memproduksi lebih banyak pangan laut, tetapi bagaimana melakukannya dengan cara yang tidak merusak fondasi ekosistem pesisir. ICM memungkinkan kita untuk menciptakan keseimbangan tersebut,” tambahnya.

Sebagai bagian dari ekosistem konferensi yang mengangkat tema “Blue Food Nexus: Harnessing Solutions for Global Food Security and Ocean Health”, Prof. Fang juga mendorong perlunya menjadikan ICM sebagai kerangka kerja utama dalam agenda pangan biru global. Ia menegaskan bahwa wilayah pesisir memiliki peran sentral dalam menjawab tiga tantangan dunia saat ini: ketahanan pangan, perlindungan keanekaragaman hayati laut, dan adaptasi perubahan iklim.

Xiamen University sendiri dikenal sebagai pusat unggulan untuk riset kelautan di Asia, termasuk pengembangan indeks kesehatan laut, inovasi teknologi budidaya laut, dan studi kebijakan tata ruang laut. Prof. Fang menyampaikan kesiapan institusinya untuk memperluas kemitraan riset dan inovasi, termasuk dengan Indonesia melalui forum-forum kolaboratif seperti ICMMBT.

Paparan Prof. Fang mencerminkan kontribusi nyata terhadap SDGs, khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui sistem pangan laut yang adaptif; SDG 13 (Perubahan Iklim) lewat pendekatan ekosistem pesisir; SDG 14 (Ekosistem Laut) melalui tata kelola pesisir terintegrasi; serta SDG 17 (Kemitraan) melalui penguatan kolaborasi riset lintas negara

Melalui kontribusi pemikiran ini, ICMMBT 2025 tidak hanya menjadi ajang tukar gagasan ilmiah, tetapi juga mendorong konsensus global mengenai peran ICM sebagai fondasi sistem pangan laut masa depan yang tangguh dan berkeadilan.